KEBENARAN ABSOLUT


Latar belakang

Mengingat semakin membudayanya “Relativisme” yg merupakan suatu isme / kepercayaan (yg semakin nge-trend) yang mengatakan bahwa: Kebenaran yang Objective itu sebenarnya tidak ada (There is no objective truth) dan semua agama itu sama benarnya, maka ada baiknya jika kita bisa sedikit membahas masalah “Kebenaran”.

Oleh karena kebenaran itu selalu bersifat absolute & objective, maka kebenaran itu merupakan sesuatu yg penting dan mendasar.

Yang namanya “Kebenaran Absolut & Objective” ini, bukan saja ada, tapi juga dapat diketahui dan , kita tidak dapat hidup dan berfungsi secara produktive tanpa mengakui dan mengetahui adanya kebenaran yang absolute.

Di dalam Kekristenan,”kebenaran” merupakan sesuatu yang penting dan mendasar karena agama Kristen mengkleim memiliki kebenaran objective tentang Allah dan tentang jalan menuju Allah melalui Yesus Kristus.

Seandainya “Kebenaran” itu tidak objective, not real, dan un-knowable( tak dpt diketahui), maka Kekristenan itu bukan saja sesat tapi juga dusta, curang dan palsu.

Nah masalahnya, setiap agama dan kepercayaan mengkleim agamanya lah yang benar,and that’s ok !

Tapi,….. apakah itu berarti bahwa semua agama itu benar ?

Apakah benar, bahwa semua agama pada dasarnya mengajar ajaran yang sama, hanya cara penyampaiannya saja yang berbeda ?

Apakah benar bahwa semua agama itu tujuannya satu tapi jalannya masing-masing lain-lain, seperti beberapa orang yang mendaki gunung melalui jalurnya masing-masing, tapi tiba pada puncak yang sama ?

Apakah Kristen sama benarnya dengan Islam ?

Apakah Islam sama benarnya dengan Buddha ?

Apakah Buddha sama benarnya dengan Kristen ?

Apakah Hindu sama benarnya dengan Islam ?

Apakah semua agama-agama ini sama benarnya ?

THE NATURE OF TRUTH & RELATIVISM

Memang ada banyak pandangan/pengertian mengenai sifat/definisi dari kebenaran. Hal ini merupakan akibat dari kekacauan/kebingungan yg terjadi antara sifat/definisi dari kebenaran dan test/defense dari kebenaran.

Atau hal ini juga dapat terjadi karena kebanyakan orang tidak dapat membedakan antara result dan rule.

Kita dapat mengerti Kebenaran secara Positive dan Negative, yaitu Kebenaran Adalah…. dan Kebenaran Bukanlah…..

Mari kita mulai dengan pengertian negative nya:

Kebenaran Bukanlah……

1. Truth is not ” that which works ” (Pragmatis)

Suatu theory tentang kebenaran yg popular adalah pandangan pragmatis dari William James. Menurut William : kita bisa tahu bahwa sesuatu pernyataan/statement itu benar apabila it brings the right results. Dengan kata lain: sesuatu itu benar, jikalau sesuatu itu ber-hasil.

Problem:

Pandangan ini tidak dapat membedakan Sebab dari Akibat.

Kalau sesuatu itu benar, maka hal itu akan berhasil,…walaupaun dalam jangka panjang.

Tapi hanya karena sesuatu itu ber-hasil, bukan berarti bahwa hal itu benar.

Contoh:

Sering kali dengan berbohong, sesorang berhasil mendapatkan apa yg diinginkannya, tetapi, bukan berarti bohong/dusta itu benar.

Lies often work, but that does nott make them true.

Jadi:

Hasil / akibat / result, tidak dapat dijadikan definisi dari kebenaran.

Lagi pula, pandangan Pragmatis ini hanya berlaku untuk kebenaran praktis, tapi tidak mencakup kebenaran matematis (2+2=4) dan kebenaran factual (tree has green leaves), for these are not true because they work, but because they correspond to the way things are, whether in the abstract or in concrete.

2. Truth is not ” that which coheres ” (Coherentis)

Kebenaran bukanlah ” sesuatu yg berkaitan / berhubungan ”

Ada pula yg mengatakan bhw kebenaran itu adalah sesuatu yg berkaitan / sesuatu yang internally consistent / sesuatu yg memiliki self consistency.

Ini juga merupakan definisi kebenaran yg kurang tepat karena alasan alasan berikut :

Pernyataan pernyataan yg hampa ( empty statements ) dapat berkaitan satu sama lain , walaupun pernyataan pernyataan tsb kosong ( tak ada isinya ).

Contoh :

” All Husbands Are Married Men ”

That statement is internally consistent , but it is empty. It does not tell us about reality.

The statement would be so even if there were no husbands.

It really means , ” If there is a husband, then he must be married ” . But it does not inform us that there is a husband anywhere in the universe.

Contoh lain:

Saksi palsu atau suatu cerita yang dibuat buat .

Berkonspirasi untuk berbohong di pengadilan.

Semuanya itu harus consistent tapi bukan berarti itu benar.

Yang jelas , Coherence is only a negative test of truth.

Statements are wrong if they inconsistent , but not necessarily true because they are consistent

3. Truth is not ” that which was intended ” ( Intensionalis )

Ada juga yg mengatakan bhw kebenaran tergantung pada intensi kita ( maksud hati ).

Jadi : Sebuah pernyataan itu benar , kalau si pembuat pernyataan itu bermaksud benar , dan sebuah pernyataan itu salah , kalau si pembuat pernyataan itu tidak bermaksud benar.

Problem :

Ada banyak statement yg dinyatakan yg tidak selalu sesuai dengan intensi si pembuat statement tsb.

Slip tongue ( salah ngomong ) sering terjadi.

Tapi kalau sebuah statement itu benar , hanya karena intensinya benar , maka , walaupun statement tsb salah , kesalahan tsb menjadi benar , demikian pula sebaliknya.

Ada banyak orang yang tulus dan sincere , yg membuat statement dengan tujuan yg baik dan tulus , tapi kemudian setelah disadari , statement tsb ternyata salah , walaupun intensinya baik dan tulus.

Jadi , jika sesuatu itu benar , hanya karena intensinya benar , maka semua pernyataan yg salah menjadi benar karena intensinya benar.

Ada banyak orang yg sungguh2 tulus yang sungguh2 salah.

Many sincere people have been sincerely wrong.

Jadi , pandangan intensionalis ini tidak tepat , karena intensi menjadi ukuran untuk menentukan kebenaran.

4. Truth is not ” which is comprehensive ” ( Comprehensive )

Ada juga yang mengatakan bahwa kebenaran dapat ditemukan dalam sesuatu yang sangat comprehensive ( rumit ) . Dengan kata lain : segala sesuatu yg paling banyak data , yang paling komplex , yang paling susah , itu adalah kebenaran .

Sebaliknya segala sesuatu yg sederhana , yg tidak rumit , yg simple , yg tidak encyclopedic , itu bukanlah kebenaran.

Problem :

-Pandanngan ini bertentangan dengan dirinya sendiri , karena definisi dari pandangan ini sendiri tidak comprehensive.

-Comprehensiveness is only a test for truth , not the definition of truth.

Memang benar bahwa suatu scientific theory yang sangat comprehensive akan memperjelas dan menerangkan semua data data yang berhubungan satu dengan lainnya.

Namun demikian , hal tsb hanyalah merupakan suatu cara untuk meng kofirmasikan apakah sesuatu itu benar , tapi bukan untuk menentukan definisi kebenaran.

Jadi , kalau sesuatu itu rumit , maka hal itu benar dan kalau sesuatu itu sederhana , maka hal itu salah / tidak benar.

Tanggapan : kalau begitu , suatu keterangan yang singkat dan sederhana mengenai kebenaran , menjadi sesuatu yg salah.

Dan suatu keterangan yg panjang lebar ( comprehensive ) mengenai sesuatu kesalahan , menjadi suatu yg benar.

Kesimpulan : oleh karena itu pandangan ini adalah pandangan yg salah.

5. Truth is not ‘ that which existentially relevant ‘ ( existentialis )

Soren Kierkegaard & para ahli filsafat existensial lainnya menekankan bahwa :

Kebenaran adalah sesuatu yang relevan dengan existensi kita ( keberadaan kita ).

Kierkegaard mengatakan bahwa : ‘ kebenaran itu subjective ‘.

Dan yg lainnya juga mengatakan bahwa kebenaran itu seharusnya dapat diaplikasikan (dipraktekkan ) dan kebenaran itu dapat ditemukan dalam tiap pribadi , dan kebenaran bukanlah suatu proposisi .

TANGGAPAN :

-Statement itu sendiri ‘ Truth is not found in propositions ‘ adalah suatu statement kebenaran yg propositional . Dengan kata lain argument nya menghancurkan diri sendiri ( self defeating ).

-Kebanyakan para existensialis tidak dapat membedakan antara sifat kebenaran dan aplikasi dari kebenaran itu.

Tentu saja semua kebenaran ( yang memang dapat dipraktekkan ) , haruslah dipraktekkan.

Memang sudah seharusnya semua kebenaran objective diaplikasikan secara subjective sedapat mungkin . Tetapi ini bukan berarti kebenaran itu bersifat subjective.

-Kebenaran existensi ini tidak dapat mencakup kebenaran2 lainnya. Kebenaran ini hanya mencakup kebenaran personal existent , dan tidak mencakup kebenaran fisika, matematika, histories dan yg bersifat teori.

-Kalau kebenaran itu hanya bersifat existensial relevance, maka semua yang kita bahas ini menjadi tidak benar , nonsense , dan tidak masuk akal.

Jadi , pandangan ini gagal dalam memberikan definisi kebenaran secara umum.

-Yang namanya kebenaran itu pasti relevan , tapi bukan berarti semua yang relevan itu pasti benar.

What is true , will be relevant , but not everything relevant is true.

Contoh :

A computer is relevant to an atheist writer.

A gun is relevant to a murderer ( killer ).

But thie does not make them true.

6. Truth is not ‘ that which feels good ‘ ( Feeling )

Ini juga merupakan salah satu pandangan yg sangat populer. Pandangan ini mengatakan:

Apapun yg membuat kita feel good and satisfying , itu adalah kebenaran dan apapun yg membuat kita feel bad , itu adalah kesalahan ( bukan kebenaran ).

Kebenaran itu ditemukan dalam perasaan subjective kita.

New Age Movement memegang teguh versi kebenaran ini. Namun pandangan ini adalah pandangan yg salah, karena beberapa hal berikut ini:

-Bad news that makes us feel bad can be true, but if what feels good is always true , then this would not be possible.

-Bad report card ( raport ) do not make a student feel good , even though they may be true.

-Feeling itu relative bagi tiap-tiap orang . apa yang dirasakan enak oleh seseorang , dapat dirasakan tidak enak oleh yang lain . kalau begitu kebenaran itu sifatnya relative dan tidak absolute.

Akan tetapi , yang namanya kebenaran itu tidak bisa relative , karena barangsiapa mengkleim bahwa kebenaran itu relative, telah mengatakannya secara mutlak ( absolute )

-Walaupun kebenaran itu juga dapat membuat kita feel good – at least dlm jangka panjang – tapi ini bukan berarti bahwa apa yg dirasakan enak itu pasti benar.

-Penganut paham ini rupanya bingung meletakkan kuda dan keretanya (Yang mana yg di depan , yang mana yg dibelakang.)

The nature of truth is not the same as the result of truth.

What truth is , is not the same as what truth does.

The definition of truth is not the same as the consequences of truth

Sekarang kita bahas pengertian positive nya

What truth is : Correspondence.

Kebenaran adalah : Persesuaian.

Kebenaran dapat ditemukan dalam persesuaian ( correnpondence ).

Dengan kata lain: Kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan apa adanya (apapun itu).

Truth is ‘ telling it like it is ‘

Truth is ‘ what corresponds to its referent ‘

Truth is ‘ what corresponds to reality ‘

Tentu saja hal ini juga mencakup kebenaran abstract realities dan juga kebenaran actual , seperti misalnya kebenaran matematika dan kebenaran suatu idea ( buah pikiran ).

Yang jelas , kebenaran adalah sesuatu yang secara akurat meng ekspresikan semua keadaan tsb, apapun itu.

Sebaliknya , error ( kesalahan ) itu adalah sesuatu yg tidak sesuai dengan apa adanya.

Kesalahan adalah : sesuatu yg tidak mengatakan / menyatakan sebagaimana adanya.

Error / falsehood is that which does not correspond to its referent.

Error / falsehood is that which does not correspond to reality.

It does not tell it like it is , but like it is not.

It is a misrepresentation of the way things are.

Ada beberapa kendala yg harus kita hadapi dalam membahas masalah kebenaran absolute.

Kendala kendala tsb adalah : RELATIVISM dan AGNOSTICISM.

RELATIVISM menolak adanya kebenaran absolute.

AGNOSTICISM mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat kita ketahui ( truth is unknowable ).

RELATIVISM:

KEBENARAN ABSOLUT SANGAT BERTENTANGAN DENGAN KEBENARAN RELATIVE.

RELATIVISM adalah suatu isme yg mengatakan :

-Sesuatu itu benar , hanya bagi orang orang tertentu saja dan bukan bagi semua orang.

-Sesuatu itu benar, hanya pada saat saat tertentu saja dan bukan setiap saat / setiap waktu.

-Sesuatu itu benar, hanya pada tempat tempat tertentu saja dan bukan di segala tempat.

KEBENARAN MUTLAK ( ABSOLUT ) berarti :

– Sesuatu yang benar itu , adalah benar bagi semua orang, pada setiap saat, dan di segala tempat. ( di mana saja , kapan saja , siapa saja ).

RELATIVISM ini memang sangat populer, namun demikian , kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas.

Mari kita bahas tentang alasan alasan mengapa banyak orang percaya bahwa kebenaran itu relative.

ALASAN 1:

Ada hal-hal yg tampaknya benar, hanya pada waktu / zaman dahulu, tapi tidak lagi pada zaman sekarang.

CONTOH :

Zaman dahulu banyak orang percaya bahwa bumi ini berbentuk kotak. Sekarang, tak seorangpun percaya akan hal itu.

Itulah sebabnya kebenaran itu berubah ubah dari waktu ke waktu.

TANGGAPAN :

Yang jelas, bumi ini tidak pernah berubah bentuk dari kotak menjadi bulat.

Yang berubah adalah kepercayaan kita dan bukan buminya.

Kebenaran itu tidak pernah berubah.

Kita lah yang berubah dari kepercayaan yg salah kepada kepercayaan yg benar.

ALASAN 2:

Ada juga hal hal yang nampaknya benar bagi seseorang, tapi tidak benar bagi orang lain.

CONTOH :

‘ I FEEL WARM ‘ Pernyataan ini benar hanya untuk saya, tapi tidak benar bagi anda.

Anda mungkin merasa dingin.

Bukankah ini membuktikan bahwa kebenaran itu relative ?

TANGGAPAN :

Not at all !

Suatu statement yg mengatakan ‘ Saya ( Rudy ) merasa panas ‘ dan pernyataan itu dinyatakan pada tanggal 1 Agustus 2005.

Statement tsb adalah benar bagi semua orang dalam seluruh alam semesta ini.

Karena , adalah tidak benar bagi semua orang bahwa Rudy tidak merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005.

Bukan saja benar bagi semua orang , tapi juga benar di mana saja dan kapan saja bahwa Rudy merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005. Hal itu benar di Moscow , di Italy , di Peking , di Washington , di Jepang , bahkan di luar angkasa bahwa Rudi merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005.

Hal itu benar bagi semua orang , disegala tempat , dan disetiap waktu.

Naaah , yang tadinya kelihatannya seperti kebenaran relative , ternyata terbukti bahwa hal itu adalah kebenaran absolute.

CONTOH LAINYA :

Ada contoh lainnya yg kelihatannya mendukung kebenaran relative.

Bila seorang guru berdiri di depan , menghadap kelasnya dan mengatakan bahwa : Pintu dari ruangan ini berada di sebelah kanan saya. Sedangkan pintu tsb berada di sebelah kiri para murid yg ada dlm kelas tsb.

Kebenaran ini nampaknya relative bagi si Pak guru , karena hal itu benar bagi si Pak guru , tapi salah bagi para murid.

TANGGAPAN :

Bahwasannya pintu tsb ada di sebelah kanan Pak guru adalah kebenaran yg absolute.

Karena , adalah salah , bagi siapa saja , kapan saja , dimana saja , kalau pintu tsb ada di sebelah kiri Pak guru.

Dan selalu benar bagi siapa saja , kapan saja , dan dimana saja bahwa pintu tsb ada di sebelah kanan Pak guru.

Demikian pula dengan para murid , bahwa pintu tsb ada di sebelah kiri para murid, adalah suatu kebenaran absolut dan benar bagi siapa saja , kapan saja dan dimana saja.

CONTOH :

Memang sudah sangat jelas bahwa di Equator itu panas , tapi dingin di Kutub Utara.

Kelihatannya contoh ini merupakan kebenaran yg relative, karena kebenarannya hanya terdapat di suatu tempat dan tidak di tempat lain.

TANGGAPAN :

Apa yg benar di suatu tempat , akan benar juga di mana mana. Contoh tadi mengatakan bahwa di Kutub Utara itu dingin , hal ini juga benar di Equator dan di mana mana bahwa di Kutub Utara itu dingin.

Demikian juga dengan ‘di Equator itu panas ‘ adalah benar di Kutub Utara dan di mana mana.

Jangan lupa bahwa , kebenaran adalah sesuatu yg sesuai dengan apa adanya ( faktanya ), dan dalam hal ini faktanya menyatakan bahwa di Equator itu panas dan di Kutub Utara itu dingin. Kebenaran ini adalah benar dimana saja , karena dimanapun juga statement tsb di atas, tidak pernah tidak sesuai dengan faktanya. ( correspondence ).

KESIMPULAN :

All truth is absolute.

Semua yang namanya kebenaran itu mutlak. Tidak ada yang namanya kebenaran yg relative.

Karena kalau sesuatu itu benar , maka hal itu benar di mana saja , kapan saja dan bagi siapa saja.

Lagi pula 5 + 5 = 10 , bukan saja benar bagi para ahli Matematika saja , tapi juga bagi semua orang.

5 + 5 = 10 , bukan saja benar hanya dalam kelas Matematika , tapi juga benar di mana mana , baik di rumah saya , di rumah anda , di planet Pluto , di tempat kerja , maupun di gereja , atau di mesjid dan di Kelenteng.

Bagaikan apple busuk , demikian pula Relativism yg kelihatannya sangat indah luarnya , tapi dalamnya busuk.

Oleh karena itu , mari kita lihat beberapa problem dalam Relativism.

PROBLEMS WITH RELATIVISM

1. Relativism is self defeating.

Argument dari relativism menghancurkan dirinya sendiri.

Para relativist percaya bahwa relativism itu benar bagi semua orang, dan bukan bagi mereka saja.

Kalau begitu relativist melanggar teorinya sendiri , karena mereka katakan bhw relativism itu hanya benar bagi orang tertentu saja dan tidak benar bagi yang lain.

Akan tetapi , oleh karena para relativist percaya bahwa relativism itu adalah benar untuk semua orang , maka , dia bukan lagi relativist , tapi absolutist.

2. Relativism menciptakan dunia yg penuh dengan kontradiksi ( sesuatu yg bertentangan ).

Kalau memang relativism itu benar , maka duina ini akan dipenuhi dengan hal hal yg kontradiksi.

Bila sesuatu itu benar bagi saya dan salah buat anda , dan menurut relativist , keduannya adalah benar dan harus diterima , maka terjadilah suatu keadaan yg bertentangan .

Contoh :

Bila saya katakan 2 + 2 = 4, dan anda katakan 2 + 2 = 5.

Hanya satu yang benar, dan bukan keduanya benar. Karena keduanya bertentangan.

Bila saya katakan ‘ ada segelas susu di dalam kulkas ‘ dan

Anda juga mengatakan ‘ tidak ada segelas susu di dalam kulkas ‘ (dalam waktu dan pengaertian yg sama ) , dan menurut relativist , keduanya itu benar ,dan harus diterima , maka

adanya segelas susu dan tidak adanya segelas susu dalam kulkas bisa terjadi dalam waktu yg bersamaan.

Namun hal itu adalah sesuatu yg tidak mungkin terjadi.

Jadi jikalau kebenaran itu relative, maka sesuatu yg impossible itu menjadi actual.

Dalam dunia keagamaan dimana seorang Theis mengatakan ‘ Allah itu ada ‘ dan seorang Atheis mengatakan ‘ Allah itu tidak ada ‘.

Menurut relativist , keduanya adalah benar dan harus diterima.

Namun demikian kedua statement tsb tidak bisa sama sama benar , karena jika yg satu benar , maka yg lain pasti salah , tapi tidak mungkin keduanya benar.

3. Relativism berarti , tak seorangpun akan pernah bersalah dalam hal apapun.

Kalau kebenaran itu relative , maka tak seorangpun bersalah , walaupun mereka sudah jelas bersalah.

Selama sesuatu itu benar menurut saya , maka saya akan selalu benar , walaupun saya bersalah.

Akibatnya adalah : Saya tidak akan pernah dapat belajar tentang segala sesuatu.

Karena , yg namanya belajar , pada hakekatnya , adalah : perpindahan dari suatu yg salah kepada sesuatu yg benar, yaitu : dari sesuatu yang absolute salah kepada sesuatu yang absolute benar.

BEBERAPA KEBERATAN TERHADAP KEBENARAN ABSOLUT DIBAHAS.

Ada beberapa keberatan yg di lontarkan oleh para relativist , kita hanya membahas yg penting-penting saja.

KEBERATAN 1 :

Ada banyak hal hal yg relative , seperti relative sizes such as shorter and taller.

Hal-hal seperti ini tidak mungkin absolute , karena mereka berubah-ubah tergantung kepada apa dan siapa mereka dibandingkan. Contohnya : sebagian orang termasuk baik, bila dibandingkan dengan Adolf Hitler , dan sebagian orang termasuk jahat, bila dibandingkan dengan Mother Teresa.

TANGGAPAN :

Perbandingan relative ini tidak dapat menyanggah kebenaran absolute.

Statement yg mengatakan bahwa ‘ John itu pendek bila dibandingkan dengan pemain basket NBA ‘ dan ‘ John itu tinggi bila dibandingkan dengan seorang jockey ‘ adalah kebenaran absolute dan benar bagi siapa saja dan kapan saja. John is in between size , tergantung kepada siapa Ia dibandingkan. Namun demikian, John yang tingginya 5 feet ,10 inches adalah pendek dibanding dng Shaquille O’Neal dan tinggi bila dibanding dng jockey Willie Shoemaker adalah suatu kebenaran yg absolut. Sama halnya dengan hal hal yg lain seperti warmer or colder and better or worse.

KEBERATAN 2 :

Kalau kebenaran itu tidak pernah berubah , maka tidak akan pernah ada kebenaran baru. Dan ini berarti bhw kita tidak akan pernah mengalami kemajuan ( progress ). Tapi sebenarnya, pada kenyataanya, kita telah banyak menemukan kebenaran baru yg terbukti dari banyaknya penemuan penemuan scientific ( scientific discovery ).

TANGGAPAN :

Istilah ‘ kebenaran baru ‘ ini sebenarnya dapat diartikan ‘ baru bagi kita ‘ seperti pada penemuan penemuan scientific tsb. Dan dalam hal ini, kita menemukan ‘kebenaran yg lama ‘ . Lagi pula hukum gravitasi sudah lama ada sebelum ditemukan oleh Newton . Yang namanya kebenaran itu, sudah lama ada , hanya kita yg baru menemukannya.

KEBERATAN 3 :

Kebenaran itu berubah-ubah bersama sama dengan pengenalan dan pengetahuan kita. Oleh karena itu, kebenaran itu tidak absolut. Apa yang benar hari ini bisa jadi salah pada hari esok. The progress of science adalah bukti bahwa kebenaran itu terus menerus beruba-ubah.

TANGGAPAN :

Keberatan ini gagal untuk melihat bahwa bukan kebenaran lah yang berubah , melainkan pengertian kita tentang kebenaran itulah yg berubah. Bilamana terjadi kemajuan-kemajuan dalam science, hal ini bukan berarti bahwa kita telah bergerak maju dari kebenaran lama kepada kebenaran yg baru, melainkan kita telah bergerak dari yg salah kepada yg benar.

Pada waktu Nicolaus Copernicus mengatakan bhw bumilah yang berputar mengeliling matahari ( heliocentric ) dan bukan sebaliknya ( geocentris ), kebenaran nya tidak berubah dari geocentric kepada heliocentric. Yang berubah adalah pengertian scientific kita tentang bumi dan matahari.

KEBERATAN 4 :

Kebenaran absolute itu terlalu sempit.

TANGGAPAN :

Keberatan ini merupakan keberatan yg sangat umum dan populer tapi tanpa dasar yg kuat.

Tentu saja yang namanya kebenaran itu selalu SEMPIT.

Karena hanya ada satu jawaban bagi 4 + 5. Dan jawabannya bukanlah 1, bukanlah 2, bukan 3, dan juga bukan 4, 5, 6, 7, 8 dan semua angka dari 10 sampai kekal.

Jawabannya hanyalah 9. Memang sempit , tapi , benar.

Non-Kristen biasanya menuduh bahwa orang Kristen itu pikirannya sempit karena orang Kristen mengkleim bahwa kekristenan itu adalah satu-satunya kebenaran sedangkan yg non-Kristen adalah tidak benar.

Namun demikian , non-Kristen juga melakukan hal yg sama, yg juga mengkleim bahwa pandangan merkalah yg benar dan semua kepercayaan yg bertentangan dengan pandangan mereka , adalah salah.

Pandangan mereka juga sama sempitnya.

Yang jelas , kalau K ( Kekristenan ) itu benar , maka semua yang non-K pasti salah , demikian juga , jika B ( Buddha ) itu benar , maka semua yg non-B pasti salah , jika I ( Islam ) itu benar , maka semua yg non-I pasti salah.

Semua pandangan tsb sama sempitnya , tapi memang begitulah sifat kebenaran.

Bila sesorang mengkleim kebenaran, maka dengan demikian ia juga telah menyatakan bhw apapun yg bertentangan dgn dia , pasti salah..

Kekristenan tidak lebih sempit dari kepercayaan2 lainnya entah itu Atheis , Agnostic , Skeptic atau Pantheis.

KEBERATAN 5 :

Kepercayaan terhadap kebenaran absolute adalah sesuatu yg Dogmatis , Congkak , Fanatik dan Arrogant.

TANGGAPAN :

Mereka yg mengatakan demikian, biasanya salah mengerti dalam 2 hal.

Yang pertama :

Yang namanya kebenaran itu , pasti , selalu absolute dan tidak dapat disangkal. Karena seperti yg sudah kita lihat , bila sesuatu itu benar, maka hal itu pasti benar bagi siapa saja , kapan saja , dan di mana saja.

Nah dalam pengertian yg seperti inilah, baru dapat dikatakan bhw mereka yg mengkleim kebenaran absolute itu dogmatis.

Yang kedua :

Ada sesuatu yg penting yg terabaikan dalam tuduhan dogmatis ini.

Ada suatu perbedaan yg besar antara sesuatu yg dogmatis dan sikap dari para absolutis.

Memang tak dapat diragukan lagi, dan sangat disayangkan bhw sikap dari pada para absolutis sering kali congkak / arrogant dalam menyampaikan kebenaran.

Namun demikian bukan berarti kebenaran itu relative.

KEBERATAN 6:

Bagaimana kita bisa tahu secara absolute bhw sesuatu itu benar ?

Banyak orang ragu terhadap kebenaran absolute, karena kita semua tidak memiliki pengetahuan yg absolute tentang kebenaran.

Bahkan banyak dari kalangan absolutis sendiri mengakui bhw ada hal hal yg dapat kita ketahui hanya sampai pada tingkat tingkat kemungkinan. Oleh karena itu, bagaimana dapat kita pastikan bhw semua kebenaran itu absolute?

TANGGAPAN :

Ada 2 hal yg salah dari keberatan ini.

Yang pertama :

Ada hal-hal yg dapat kita pastikan secara absolute.

Contoh :

-Saya tahu dengan pasti bahwa saya ada ( Exist ). Bahkan saya tahu dengan pasti bahwa keberadaan saya ini tidak dapat disangkal. Karena untuk menyangkal keberadaan saya , saya harus ada terlebih dahulu. Dengan kata lain saya harus ada untuk mengatakan bahwa ‘ saya tidak ada ‘.

-Saya juga dapat memastikan secara absolute bhw saya tidak bisa ada dan tidak ada , dalam waktu yang bersamaan.

-Dan saya tahu pasti bhw tidak ada yang namanya lingkaran kotak.

-Dan juga saya tahu pasti bhw 3 + 2 = 5 itu , absolute.

Yang kedua :

Tentu saja ada banyak hal hal lainnya yg tidak saya ketahui dengan pasti ( secara absolut).

Bahkan dalam hal inipun para relativis sering salah mengerti. Mereka menolak kebenaran absolute , hanya di karena kan kurangnya bukti-bukti yg absolut untuk menyatakan bhw sesuatu itu benar.

Mereka gagal untuk mengakui bhw kebenaran itu selalu absolute, apapun yg menjadi dasar kita untuk mempercayainya.

Contoh :

Jika benar bhw Sydney , Australia ada di lautan Pacific ,maka hal itu merupakan suatu kebenaran yg absolut , tidak perduli apakah saya memiliki bukti-buktinya maupun tidak. Hal tsb benar bagi orang yg punya bukti- bukti dan juga benar bagi seorang bayi yg belum tahu apa apa mengenai ilmu bumi. Sampai di manapun tingkat pengetahuan kita , bahwa , Sydney , Australia ada di lautan Pacific , itu adalah kebenaran absolute.

Kebenaran absolute adalah selalu benar , sampai dimanapun pengetahuan kita .

Truth does not change , just because we learn something more about it.

 

ESDI

Latar belakang

Mengingat semakin membudayanya “Relativisme” yg merupakan suatu isme / kepercayaan (yg semakin nge-trend) yang mengatakan bahwa: Kebenaran yang Objective itu sebenarnya tidak ada (There is no objective truth) dan semua agama itu sama benarnya, maka ada baiknya jika kita bisa sedikit membahas masalah “Kebenaran”.

Oleh karena kebenaran itu selalu bersifat absolute & objective, maka kebenaran itu merupakan sesuatu yg penting dan mendasar.

Yang namanya “Kebenaran Absolut & Objective” ini, bukan saja ada, tapi juga dapat diketahui dan , kita tidak dapat hidup dan berfungsi secara produktive tanpa mengakui dan mengetahui adanya kebenaran yang absolute.

Di dalam Kekristenan,”kebenaran” merupakan sesuatu yang penting dan mendasar karena agama Kristen mengkleim memiliki kebenaran objective tentang Allah dan tentang jalan menuju Allah melalui Yesus Kristus.

Seandainya “Kebenaran” itu tidak objective, not real, dan un-knowable( tak dpt diketahui), maka Kekristenan itu bukan saja sesat tapi juga dusta, curang dan palsu.

Nah masalahnya, setiap agama dan kepercayaan mengkleim agamanya lah yang benar,and that’s ok !

Tapi,….. apakah itu berarti bahwa semua agama itu benar ?

Apakah benar, bahwa semua agama pada dasarnya mengajar ajaran yang sama, hanya cara penyampaiannya saja yang berbeda ?

Apakah benar bahwa semua agama itu tujuannya satu tapi jalannya masing-masing lain-lain, seperti beberapa orang yang mendaki gunung melalui jalurnya masing-masing, tapi tiba pada puncak yang sama ?

Apakah Kristen sama benarnya dengan Islam ?

Apakah Islam sama benarnya dengan Buddha ?

Apakah Buddha sama benarnya dengan Kristen ?

Apakah Hindu sama benarnya dengan Islam ?

Apakah semua agama-agama ini sama benarnya ?

THE NATURE OF TRUTH & RELATIVISM

Memang ada banyak pandangan/pengertian mengenai sifat/definisi dari kebenaran. Hal ini merupakan akibat dari kekacauan/kebingungan yg terjadi antara sifat/definisi dari kebenaran dan test/defense dari kebenaran.

Atau hal ini juga dapat terjadi karena kebanyakan orang tidak dapat membedakan antara result dan rule.

Kita dapat mengerti Kebenaran secara Positive dan Negative, yaitu Kebenaran Adalah…. dan Kebenaran Bukanlah…..

Mari kita mulai dengan pengertian negative nya:

Kebenaran Bukanlah……

1. Truth is not ” that which works ” (Pragmatis)

Suatu theory tentang kebenaran yg popular adalah pandangan pragmatis dari William James. Menurut William : kita bisa tahu bahwa sesuatu pernyataan/statement itu benar apabila it brings the right results. Dengan kata lain: sesuatu itu benar, jikalau sesuatu itu ber-hasil.

Problem:

Pandangan ini tidak dapat membedakan Sebab dari Akibat.

Kalau sesuatu itu benar, maka hal itu akan berhasil,…walaupaun dalam jangka panjang.

Tapi hanya karena sesuatu itu ber-hasil, bukan berarti bahwa hal itu benar.

Contoh:

Sering kali dengan berbohong, sesorang berhasil mendapatkan apa yg diinginkannya, tetapi, bukan berarti bohong/dusta itu benar.

Lies often work, but that does nott make them true.

Jadi:

Hasil / akibat / result, tidak dapat dijadikan definisi dari kebenaran.

Lagi pula, pandangan Pragmatis ini hanya berlaku untuk kebenaran praktis, tapi tidak mencakup kebenaran matematis (2+2=4) dan kebenaran factual (tree has green leaves), for these are not true because they work, but because they correspond to the way things are, whether in the abstract or in concrete.

2. Truth is not ” that which coheres ” (Coherentis)

Kebenaran bukanlah ” sesuatu yg berkaitan / berhubungan ”

Ada pula yg mengatakan bhw kebenaran itu adalah sesuatu yg berkaitan / sesuatu yang internally consistent / sesuatu yg memiliki self consistency.

Ini juga merupakan definisi kebenaran yg kurang tepat karena alasan alasan berikut :

Pernyataan pernyataan yg hampa ( empty statements ) dapat berkaitan satu sama lain , walaupun pernyataan pernyataan tsb kosong ( tak ada isinya ).

Contoh :

” All Husbands Are Married Men ”

That statement is internally consistent , but it is empty. It does not tell us about reality.

The statement would be so even if there were no husbands.

It really means , ” If there is a husband, then he must be married ” . But it does not inform us that there is a husband anywhere in the universe.

Contoh lain:

Saksi palsu atau suatu cerita yang dibuat buat .

Berkonspirasi untuk berbohong di pengadilan.

Semuanya itu harus consistent tapi bukan berarti itu benar.

Yang jelas , Coherence is only a negative test of truth.

Statements are wrong if they inconsistent , but not necessarily true because they are consistent

3. Truth is not ” that which was intended ” ( Intensionalis )

Ada juga yg mengatakan bhw kebenaran tergantung pada intensi kita ( maksud hati ).

Jadi : Sebuah pernyataan itu benar , kalau si pembuat pernyataan itu bermaksud benar , dan sebuah pernyataan itu salah , kalau si pembuat pernyataan itu tidak bermaksud benar.

Problem :

Ada banyak statement yg dinyatakan yg tidak selalu sesuai dengan intensi si pembuat statement tsb.

Slip tongue ( salah ngomong ) sering terjadi.

Tapi kalau sebuah statement itu benar , hanya karena intensinya benar , maka , walaupun statement tsb salah , kesalahan tsb menjadi benar , demikian pula sebaliknya.

Ada banyak orang yang tulus dan sincere , yg membuat statement dengan tujuan yg baik dan tulus , tapi kemudian setelah disadari , statement tsb ternyata salah , walaupun intensinya baik dan tulus.

Jadi , jika sesuatu itu benar , hanya karena intensinya benar , maka semua pernyataan yg salah menjadi benar karena intensinya benar.

Ada banyak orang yg sungguh2 tulus yang sungguh2 salah.

Many sincere people have been sincerely wrong.

Jadi , pandangan intensionalis ini tidak tepat , karena intensi menjadi ukuran untuk menentukan kebenaran.

4. Truth is not ” which is comprehensive ” ( Comprehensive )

Ada juga yang mengatakan bahwa kebenaran dapat ditemukan dalam sesuatu yang sangat comprehensive ( rumit ) . Dengan kata lain : segala sesuatu yg paling banyak data , yang paling komplex , yang paling susah , itu adalah kebenaran .

Sebaliknya segala sesuatu yg sederhana , yg tidak rumit , yg simple , yg tidak encyclopedic , itu bukanlah kebenaran.

Problem :

-Pandanngan ini bertentangan dengan dirinya sendiri , karena definisi dari pandangan ini sendiri tidak comprehensive.

-Comprehensiveness is only a test for truth , not the definition of truth.

Memang benar bahwa suatu scientific theory yang sangat comprehensive akan memperjelas dan menerangkan semua data data yang berhubungan satu dengan lainnya.

Namun demikian , hal tsb hanyalah merupakan suatu cara untuk meng kofirmasikan apakah sesuatu itu benar , tapi bukan untuk menentukan definisi kebenaran.

Jadi , kalau sesuatu itu rumit , maka hal itu benar dan kalau sesuatu itu sederhana , maka hal itu salah / tidak benar.

Tanggapan : kalau begitu , suatu keterangan yang singkat dan sederhana mengenai kebenaran , menjadi sesuatu yg salah.

Dan suatu keterangan yg panjang lebar ( comprehensive ) mengenai sesuatu kesalahan , menjadi suatu yg benar.

Kesimpulan : oleh karena itu pandangan ini adalah pandangan yg salah.

5. Truth is not ‘ that which existentially relevant ‘ ( existentialis )

Soren Kierkegaard & para ahli filsafat existensial lainnya menekankan bahwa :

Kebenaran adalah sesuatu yang relevan dengan existensi kita ( keberadaan kita ).

Kierkegaard mengatakan bahwa : ‘ kebenaran itu subjective ‘.

Dan yg lainnya juga mengatakan bahwa kebenaran itu seharusnya dapat diaplikasikan (dipraktekkan ) dan kebenaran itu dapat ditemukan dalam tiap pribadi , dan kebenaran bukanlah suatu proposisi .

TANGGAPAN :

-Statement itu sendiri ‘ Truth is not found in propositions ‘ adalah suatu statement kebenaran yg propositional . Dengan kata lain argument nya menghancurkan diri sendiri ( self defeating ).

-Kebanyakan para existensialis tidak dapat membedakan antara sifat kebenaran dan aplikasi dari kebenaran itu.

Tentu saja semua kebenaran ( yang memang dapat dipraktekkan ) , haruslah dipraktekkan.

Memang sudah seharusnya semua kebenaran objective diaplikasikan secara subjective sedapat mungkin . Tetapi ini bukan berarti kebenaran itu bersifat subjective.

-Kebenaran existensi ini tidak dapat mencakup kebenaran2 lainnya. Kebenaran ini hanya mencakup kebenaran personal existent , dan tidak mencakup kebenaran fisika, matematika, histories dan yg bersifat teori.

-Kalau kebenaran itu hanya bersifat existensial relevance, maka semua yang kita bahas ini menjadi tidak benar , nonsense , dan tidak masuk akal.

Jadi , pandangan ini gagal dalam memberikan definisi kebenaran secara umum.

-Yang namanya kebenaran itu pasti relevan , tapi bukan berarti semua yang relevan itu pasti benar.

What is true , will be relevant , but not everything relevant is true.

Contoh :

A computer is relevant to an atheist writer.

A gun is relevant to a murderer ( killer ).

But thie does not make them true.

6. Truth is not ‘ that which feels good ‘ ( Feeling )

Ini juga merupakan salah satu pandangan yg sangat populer. Pandangan ini mengatakan:

Apapun yg membuat kita feel good and satisfying , itu adalah kebenaran dan apapun yg membuat kita feel bad , itu adalah kesalahan ( bukan kebenaran ).

Kebenaran itu ditemukan dalam perasaan subjective kita.

New Age Movement memegang teguh versi kebenaran ini. Namun pandangan ini adalah pandangan yg salah, karena beberapa hal berikut ini:

-Bad news that makes us feel bad can be true, but if what feels good is always true , then this would not be possible.

-Bad report card ( raport ) do not make a student feel good , even though they may be true.

-Feeling itu relative bagi tiap-tiap orang . apa yang dirasakan enak oleh seseorang , dapat dirasakan tidak enak oleh yang lain . kalau begitu kebenaran itu sifatnya relative dan tidak absolute.

Akan tetapi , yang namanya kebenaran itu tidak bisa relative , karena barangsiapa mengkleim bahwa kebenaran itu relative, telah mengatakannya secara mutlak ( absolute )

-Walaupun kebenaran itu juga dapat membuat kita feel good – at least dlm jangka panjang – tapi ini bukan berarti bahwa apa yg dirasakan enak itu pasti benar.

-Penganut paham ini rupanya bingung meletakkan kuda dan keretanya (Yang mana yg di depan , yang mana yg dibelakang.)

The nature of truth is not the same as the result of truth.

What truth is , is not the same as what truth does.

The definition of truth is not the same as the consequences of truth

Sekarang kita bahas pengertian positive nya

What truth is : Correspondence.

Kebenaran adalah : Persesuaian.

Kebenaran dapat ditemukan dalam persesuaian ( correnpondence ).

Dengan kata lain: Kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan apa adanya (apapun itu).

Truth is ‘ telling it like it is ‘

Truth is ‘ what corresponds to its referent ‘

Truth is ‘ what corresponds to reality ‘

Tentu saja hal ini juga mencakup kebenaran abstract realities dan juga kebenaran actual , seperti misalnya kebenaran matematika dan kebenaran suatu idea ( buah pikiran ).

Yang jelas , kebenaran adalah sesuatu yang secara akurat meng ekspresikan semua keadaan tsb, apapun itu.

Sebaliknya , error ( kesalahan ) itu adalah sesuatu yg tidak sesuai dengan apa adanya.

Kesalahan adalah : sesuatu yg tidak mengatakan / menyatakan sebagaimana adanya.

Error / falsehood is that which does not correspond to its referent.

Error / falsehood is that which does not correspond to reality.

It does not tell it like it is , but like it is not.

It is a misrepresentation of the way things are.

Ada beberapa kendala yg harus kita hadapi dalam membahas masalah kebenaran absolute.

Kendala kendala tsb adalah : RELATIVISM dan AGNOSTICISM.

RELATIVISM menolak adanya kebenaran absolute.

AGNOSTICISM mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat kita ketahui ( truth is unknowable ).

RELATIVISM:

KEBENARAN ABSOLUT SANGAT BERTENTANGAN DENGAN KEBENARAN RELATIVE.

RELATIVISM adalah suatu isme yg mengatakan :

-Sesuatu itu benar , hanya bagi orang orang tertentu saja dan bukan bagi semua orang.

-Sesuatu itu benar, hanya pada saat saat tertentu saja dan bukan setiap saat / setiap waktu.

-Sesuatu itu benar, hanya pada tempat tempat tertentu saja dan bukan di segala tempat.

KEBENARAN MUTLAK ( ABSOLUT ) berarti :

– Sesuatu yang benar itu , adalah benar bagi semua orang, pada setiap saat, dan di segala tempat. ( di mana saja , kapan saja , siapa saja ).

RELATIVISM ini memang sangat populer, namun demikian , kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas.

Mari kita bahas tentang alasan alasan mengapa banyak orang percaya bahwa kebenaran itu relative.

ALASAN 1:

Ada hal-hal yg tampaknya benar, hanya pada waktu / zaman dahulu, tapi tidak lagi pada zaman sekarang.

CONTOH :

Zaman dahulu banyak orang percaya bahwa bumi ini berbentuk kotak. Sekarang, tak seorangpun percaya akan hal itu.

Itulah sebabnya kebenaran itu berubah ubah dari waktu ke waktu.

TANGGAPAN :

Yang jelas, bumi ini tidak pernah berubah bentuk dari kotak menjadi bulat.

Yang berubah adalah kepercayaan kita dan bukan buminya.

Kebenaran itu tidak pernah berubah.

Kita lah yang berubah dari kepercayaan yg salah kepada kepercayaan yg benar.

ALASAN 2:

Ada juga hal hal yang nampaknya benar bagi seseorang, tapi tidak benar bagi orang lain.

CONTOH :

‘ I FEEL WARM ‘ Pernyataan ini benar hanya untuk saya, tapi tidak benar bagi anda.

Anda mungkin merasa dingin.

Bukankah ini membuktikan bahwa kebenaran itu relative ?

TANGGAPAN :

Not at all !

Suatu statement yg mengatakan ‘ Saya ( Rudy ) merasa panas ‘ dan pernyataan itu dinyatakan pada tanggal 1 Agustus 2005.

Statement tsb adalah benar bagi semua orang dalam seluruh alam semesta ini.

Karena , adalah tidak benar bagi semua orang bahwa Rudy tidak merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005.

Bukan saja benar bagi semua orang , tapi juga benar di mana saja dan kapan saja bahwa Rudy merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005. Hal itu benar di Moscow , di Italy , di Peking , di Washington , di Jepang , bahkan di luar angkasa bahwa Rudi merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005.

Hal itu benar bagi semua orang , disegala tempat , dan disetiap waktu.

Naaah , yang tadinya kelihatannya seperti kebenaran relative , ternyata terbukti bahwa hal itu adalah kebenaran absolute.

CONTOH LAINYA :

Ada contoh lainnya yg kelihatannya mendukung kebenaran relative.

Bila seorang guru berdiri di depan , menghadap kelasnya dan mengatakan bahwa : Pintu dari ruangan ini berada di sebelah kanan saya. Sedangkan pintu tsb berada di sebelah kiri para murid yg ada dlm kelas tsb.

Kebenaran ini nampaknya relative bagi si Pak guru , karena hal itu benar bagi si Pak guru , tapi salah bagi para murid.

TANGGAPAN :

Bahwasannya pintu tsb ada di sebelah kanan Pak guru adalah kebenaran yg absolute.

Karena , adalah salah , bagi siapa saja , kapan saja , dimana saja , kalau pintu tsb ada di sebelah kiri Pak guru.

Dan selalu benar bagi siapa saja , kapan saja , dan dimana saja bahwa pintu tsb ada di sebelah kanan Pak guru.

Demikian pula dengan para murid , bahwa pintu tsb ada di sebelah kiri para murid, adalah suatu kebenaran absolut dan benar bagi siapa saja , kapan saja dan dimana saja.

CONTOH :

Memang sudah sangat jelas bahwa di Equator itu panas , tapi dingin di Kutub Utara.

Kelihatannya contoh ini merupakan kebenaran yg relative, karena kebenarannya hanya terdapat di suatu tempat dan tidak di tempat lain.

TANGGAPAN :

Apa yg benar di suatu tempat , akan benar juga di mana mana. Contoh tadi mengatakan bahwa di Kutub Utara itu dingin , hal ini juga benar di Equator dan di mana mana bahwa di Kutub Utara itu dingin.

Demikian juga dengan ‘di Equator itu panas ‘ adalah benar di Kutub Utara dan di mana mana.

Jangan lupa bahwa , kebenaran adalah sesuatu yg sesuai dengan apa adanya ( faktanya ), dan dalam hal ini faktanya menyatakan bahwa di Equator itu panas dan di Kutub Utara itu dingin. Kebenaran ini adalah benar dimana saja , karena dimanapun juga statement tsb di atas, tidak pernah tidak sesuai dengan faktanya. ( correspondence ).

KESIMPULAN :

All truth is absolute.

Semua yang namanya kebenaran itu mutlak. Tidak ada yang namanya kebenaran yg relative.

Karena kalau sesuatu itu benar , maka hal itu benar di mana saja , kapan saja dan bagi siapa saja.

Lagi pula 5 + 5 = 10 , bukan saja benar bagi para ahli Matematika saja , tapi juga bagi semua orang.

5 + 5 = 10 , bukan saja benar hanya dalam kelas Matematika , tapi juga benar di mana mana , baik di rumah saya , di rumah anda , di planet Pluto , di tempat kerja , maupun di gereja , atau di mesjid dan di Kelenteng.

Bagaikan apple busuk , demikian pula Relativism yg kelihatannya sangat indah luarnya , tapi dalamnya busuk.

Oleh karena itu , mari kita lihat beberapa problem dalam Relativism.

PROBLEMS WITH RELATIVISM

1. Relativism is self defeating.

Argument dari relativism menghancurkan dirinya sendiri.

Para relativist percaya bahwa relativism itu benar bagi semua orang, dan bukan bagi mereka saja.

Kalau begitu relativist melanggar teorinya sendiri , karena mereka katakan bhw relativism itu hanya benar bagi orang tertentu saja dan tidak benar bagi yang lain.

Akan tetapi , oleh karena para relativist percaya bahwa relativism itu adalah benar untuk semua orang , maka , dia bukan lagi relativist , tapi absolutist.

2. Relativism menciptakan dunia yg penuh dengan kontradiksi ( sesuatu yg bertentangan ).

Kalau memang relativism itu benar , maka duina ini akan dipenuhi dengan hal hal yg kontradiksi.

Bila sesuatu itu benar bagi saya dan salah buat anda , dan menurut relativist , keduannya adalah benar dan harus diterima , maka terjadilah suatu keadaan yg bertentangan .

Contoh :

Bila saya katakan 2 + 2 = 4, dan anda katakan 2 + 2 = 5.

Hanya satu yang benar, dan bukan keduanya benar. Karena keduanya bertentangan.

Bila saya katakan ‘ ada segelas susu di dalam kulkas ‘ dan

Anda juga mengatakan ‘ tidak ada segelas susu di dalam kulkas ‘ (dalam waktu dan pengaertian yg sama ) , dan menurut relativist , keduanya itu benar ,dan harus diterima , maka

adanya segelas susu dan tidak adanya segelas susu dalam kulkas bisa terjadi dalam waktu yg bersamaan.

Namun hal itu adalah sesuatu yg tidak mungkin terjadi.

Jadi jikalau kebenaran itu relative, maka sesuatu yg impossible itu menjadi actual.

Dalam dunia keagamaan dimana seorang Theis mengatakan ‘ Allah itu ada ‘ dan seorang Atheis mengatakan ‘ Allah itu tidak ada ‘.

Menurut relativist , keduanya adalah benar dan harus diterima.

Namun demikian kedua statement tsb tidak bisa sama sama benar , karena jika yg satu benar , maka yg lain pasti salah , tapi tidak mungkin keduanya benar.

3. Relativism berarti , tak seorangpun akan pernah bersalah dalam hal apapun.

Kalau kebenaran itu relative , maka tak seorangpun bersalah , walaupun mereka sudah jelas bersalah.

Selama sesuatu itu benar menurut saya , maka saya akan selalu benar , walaupun saya bersalah.

Akibatnya adalah : Saya tidak akan pernah dapat belajar tentang segala sesuatu.

Karena , yg namanya belajar , pada hakekatnya , adalah : perpindahan dari suatu yg salah kepada sesuatu yg benar, yaitu : dari sesuatu yang absolute salah kepada sesuatu yang absolute benar.

BEBERAPA KEBERATAN TERHADAP KEBENARAN ABSOLUT DIBAHAS.

Ada beberapa keberatan yg di lontarkan oleh para relativist , kita hanya membahas yg penting-penting saja.

KEBERATAN 1 :

Ada banyak hal hal yg relative , seperti relative sizes such as shorter and taller.

Hal-hal seperti ini tidak mungkin absolute , karena mereka berubah-ubah tergantung kepada apa dan siapa mereka dibandingkan. Contohnya : sebagian orang termasuk baik, bila dibandingkan dengan Adolf Hitler , dan sebagian orang termasuk jahat, bila dibandingkan dengan Mother Teresa.

TANGGAPAN :

Perbandingan relative ini tidak dapat menyanggah kebenaran absolute.

Statement yg mengatakan bahwa ‘ John itu pendek bila dibandingkan dengan pemain basket NBA ‘ dan ‘ John itu tinggi bila dibandingkan dengan seorang jockey ‘ adalah kebenaran absolute dan benar bagi siapa saja dan kapan saja. John is in between size , tergantung kepada siapa Ia dibandingkan. Namun demikian, John yang tingginya 5 feet ,10 inches adalah pendek dibanding dng Shaquille O’Neal dan tinggi bila dibanding dng jockey Willie Shoemaker adalah suatu kebenaran yg absolut. Sama halnya dengan hal hal yg lain seperti warmer or colder and better or worse.

KEBERATAN 2 :

Kalau kebenaran itu tidak pernah berubah , maka tidak akan pernah ada kebenaran baru. Dan ini berarti bhw kita tidak akan pernah mengalami kemajuan ( progress ). Tapi sebenarnya, pada kenyataanya, kita telah banyak menemukan kebenaran baru yg terbukti dari banyaknya penemuan penemuan scientific ( scientific discovery ).

TANGGAPAN :

Istilah ‘ kebenaran baru ‘ ini sebenarnya dapat diartikan ‘ baru bagi kita ‘ seperti pada penemuan penemuan scientific tsb. Dan dalam hal ini, kita menemukan ‘kebenaran yg lama ‘ . Lagi pula hukum gravitasi sudah lama ada sebelum ditemukan oleh Newton . Yang namanya kebenaran itu, sudah lama ada , hanya kita yg baru menemukannya.

KEBERATAN 3 :

Kebenaran itu berubah-ubah bersama sama dengan pengenalan dan pengetahuan kita. Oleh karena itu, kebenaran itu tidak absolut. Apa yang benar hari ini bisa jadi salah pada hari esok. The progress of science adalah bukti bahwa kebenaran itu terus menerus beruba-ubah.

TANGGAPAN :

Keberatan ini gagal untuk melihat bahwa bukan kebenaran lah yang berubah , melainkan pengertian kita tentang kebenaran itulah yg berubah. Bilamana terjadi kemajuan-kemajuan dalam science, hal ini bukan berarti bahwa kita telah bergerak maju dari kebenaran lama kepada kebenaran yg baru, melainkan kita telah bergerak dari yg salah kepada yg benar.

Pada waktu Nicolaus Copernicus mengatakan bhw bumilah yang berputar mengeliling matahari ( heliocentric ) dan bukan sebaliknya ( geocentris ), kebenaran nya tidak berubah dari geocentric kepada heliocentric. Yang berubah adalah pengertian scientific kita tentang bumi dan matahari.

KEBERATAN 4 :

Kebenaran absolute itu terlalu sempit.

TANGGAPAN :

Keberatan ini merupakan keberatan yg sangat umum dan populer tapi tanpa dasar yg kuat.

Tentu saja yang namanya kebenaran itu selalu SEMPIT.

Karena hanya ada satu jawaban bagi 4 + 5. Dan jawabannya bukanlah 1, bukanlah 2, bukan 3, dan juga bukan 4, 5, 6, 7, 8 dan semua angka dari 10 sampai kekal.

Jawabannya hanyalah 9. Memang sempit , tapi , benar.

Non-Kristen biasanya menuduh bahwa orang Kristen itu pikirannya sempit karena orang Kristen mengkleim bahwa kekristenan itu adalah satu-satunya kebenaran sedangkan yg non-Kristen adalah tidak benar.

Namun demikian , non-Kristen juga melakukan hal yg sama, yg juga mengkleim bahwa pandangan merkalah yg benar dan semua kepercayaan yg bertentangan dengan pandangan mereka , adalah salah.

Pandangan mereka juga sama sempitnya.

Yang jelas , kalau K ( Kekristenan ) itu benar , maka semua yang non-K pasti salah , demikian juga , jika B ( Buddha ) itu benar , maka semua yg non-B pasti salah , jika I ( Islam ) itu benar , maka semua yg non-I pasti salah.

Semua pandangan tsb sama sempitnya , tapi memang begitulah sifat kebenaran.

Bila sesorang mengkleim kebenaran, maka dengan demikian ia juga telah menyatakan bhw apapun yg bertentangan dgn dia , pasti salah..

Kekristenan tidak lebih sempit dari kepercayaan2 lainnya entah itu Atheis , Agnostic , Skeptic atau Pantheis.

KEBERATAN 5 :

Kepercayaan terhadap kebenaran absolute adalah sesuatu yg Dogmatis , Congkak , Fanatik dan Arrogant.

TANGGAPAN :

Mereka yg mengatakan demikian, biasanya salah mengerti dalam 2 hal.

Yang pertama :

Yang namanya kebenaran itu , pasti , selalu absolute dan tidak dapat disangkal. Karena seperti yg sudah kita lihat , bila sesuatu itu benar, maka hal itu pasti benar bagi siapa saja , kapan saja , dan di mana saja.

Nah dalam pengertian yg seperti inilah, baru dapat dikatakan bhw mereka yg mengkleim kebenaran absolute itu dogmatis.

Yang kedua :

Ada sesuatu yg penting yg terabaikan dalam tuduhan dogmatis ini.

Ada suatu perbedaan yg besar antara sesuatu yg dogmatis dan sikap dari para absolutis.

Memang tak dapat diragukan lagi, dan sangat disayangkan bhw sikap dari pada para absolutis sering kali congkak / arrogant dalam menyampaikan kebenaran.

Namun demikian bukan berarti kebenaran itu relative.

KEBERATAN 6:

Bagaimana kita bisa tahu secara absolute bhw sesuatu itu benar ?

Banyak orang ragu terhadap kebenaran absolute, karena kita semua tidak memiliki pengetahuan yg absolute tentang kebenaran.

Bahkan banyak dari kalangan absolutis sendiri mengakui bhw ada hal hal yg dapat kita ketahui hanya sampai pada tingkat tingkat kemungkinan. Oleh karena itu, bagaimana dapat kita pastikan bhw semua kebenaran itu absolute?

TANGGAPAN :

Ada 2 hal yg salah dari keberatan ini.

Yang pertama :

Ada hal-hal yg dapat kita pastikan secara absolute.

Contoh :

-Saya tahu dengan pasti bahwa saya ada ( Exist ). Bahkan saya tahu dengan pasti bahwa keberadaan saya ini tidak dapat disangkal. Karena untuk menyangkal keberadaan saya , saya harus ada terlebih dahulu. Dengan kata lain saya harus ada untuk mengatakan bahwa ‘ saya tidak ada ‘.

-Saya juga dapat memastikan secara absolute bhw saya tidak bisa ada dan tidak ada , dalam waktu yang bersamaan.

-Dan saya tahu pasti bhw tidak ada yang namanya lingkaran kotak.

-Dan juga saya tahu pasti bhw 3 + 2 = 5 itu , absolute.

Yang kedua :

Tentu saja ada banyak hal hal lainnya yg tidak saya ketahui dengan pasti ( secara absolut).

Bahkan dalam hal inipun para relativis sering salah mengerti. Mereka menolak kebenaran absolute , hanya di karena kan kurangnya bukti-bukti yg absolut untuk menyatakan bhw sesuatu itu benar.

Mereka gagal untuk mengakui bhw kebenaran itu selalu absolute, apapun yg menjadi dasar kita untuk mempercayainya.

Contoh :

Jika benar bhw Sydney , Australia ada di lautan Pacific ,maka hal itu merupakan suatu kebenaran yg absolut , tidak perduli apakah saya memiliki bukti-buktinya maupun tidak. Hal tsb benar bagi orang yg punya bukti- bukti dan juga benar bagi seorang bayi yg belum tahu apa apa mengenai ilmu bumi. Sampai di manapun tingkat pengetahuan kita , bahwa , Sydney , Australia ada di lautan Pacific , itu adalah kebenaran absolute.

Kebenaran absolute adalah selalu benar , sampai dimanapun pengetahuan kita .

Truth does not change , just because we learn something more about it.

A.W.