BIBIT AKAN UNGGUL JIKA PETANINYA HEBAT


Salah satu Putra terbaik dari Kabupaten Barito Utara ini berhasil meraih predikat sebagai Guru SMA Berprestasi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2015 dan akan mengikuti seleksi Guru SMA Berprestasi Tingkat Nasional yang akan di laksanakan pada Bulan Nopember 2015 di Jakarta.
Kecintaannya terhadap profesi guru ini menghantarkannya menjadi guru idola dengan berbagai ragam karya. Bagaimana kiprahnya? Berikut sedikit catatannya.

JUARA I.

Esdi Pangganti (memegang piala) bersama Tim Kabupaten Barito Utara pada Seleksi Guru SMA Berprestasi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2015 di Hotel Aquarius Palangka Raya

PRIA yang akrab dipanggil Esdi ini tampak ramah dengan sejumlah media massa ketika dijumpai setelah memenangkan lomba Guru SMA Berprestasi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah yang dilaksanakan di Hotel Aquarius Palangka Raya pada tanggal 7 s.d 10 Juli 2015. Pria yang telah menjadi guru semenjak lulus dari Jurusan Pendidikan Kimia Universitas Palangka Raya tahun 2001 ini telah cukup banyak berkarya dan berperan dalam kegiatan kependidikan terutama di Kabupaten Barito Utara. Dibincangi oleh media sesaat sesudah menerima predikat sebagai guru SMA berprestasi atau yang dulunya dikenal sebagai Guru Teladan.
Esdi menyampaikan harapan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh guru sebaiknya didokumentasikan dengan baik, teratur dan konsisten sebagaimana yang telah dilakukannya. Hal ini sesungguhnya menunjukkan salah satu kompetensi yang dipunyai oleh seorang guru yaitu kompetensi profesional selain pedagogik, kepribadian dan sosial. Selanjutnya menurut ayah dua orang anak ini -Olla dan Holly- komponen yang tidak kalah penting adalah kepribadian, “sebagai seorang guru janganlah kita berpenampilan apa adanya, saat berangkat ke sekolah terlihat seperti orang baru bangun tidur, rambut dan pakaian acak-acakan, bersikap dan bertutur kata yang kurang bagus namun sebaliknya harusnya seorang guru harus menjaga penampilan, layaknya seorang idola, maka keberadaan atau kehadiran guru di sekolah harus menjadi solution man atau pembawa solusi bagi warga sekolah terutama untuk setiap kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik” tuturnya dengan bersemangat.
Suami dari Hesti Lawinisari -guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri – 2 Muara Teweh- ini juga telah banyak membantu kegiatan pembelajaran dibeberapa sekolah baik dalam wilayah Kabupaten Barito Utara, maupun sampai ke daerah-daerah lainnya di DAS Barito, Provinsi Kalimantan Tengah seperti Murung Raya, Barito Timur, dan Barito Selatan. Pria yang cukup menguasai ICT ini sering dijadikan narasumber atau fasilitator kegiatan-kegiatan In House Training (IHT), beberapa karya yang telah cukup populer dilakukan antara lain pengembangan program penilaian dan LHBPD berbantuan komputer, termasuk pengadaan media pembelajaran pembangkit motivasi belajar siswa –edutainment program- yang berhasil membawanya menjadi Juara I, guru berprestasi tingkat Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2015.
Esdi juga menyapaikan, kurangnya penghargaan terhadap prestasi maupun karya seorang guru menjadi salah satu keengganan guru untuk berkompetisi, lembaga-lembaga resmi pemantau pendidikan tidak punya video cara terbaik guru-guru dalam mengajar, termasuk dorongan pemerintah bagi guru yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurutnya jika guru di sekolahkan, maka orientasi pendidikan akan berubah pada 5-10 tahun setelah yang bersangkutan lulus. Orang tua harusnya lebih takut anaknya tidak bisa budaya antri daripada tidak lulus dalam ujian nasional atau bisa menulis dan membaca pada pendidikan setingkat PAUD, karena budaya antri mengajarkan banyak hal yang bisa dengan sendirinya muncul dri kepribadian seorang anak tersebut. Pendidikan kita sekarang cenderung konvensional, tetap lebih dominan menekankan aspek kognitif walau sudah berkali-kali mengalami perubahan konsep kurikulum.
Pria yang menjadi wakil kepala sekolah urusan Humas di SMA Negeri – 2 Muara Teweh, setelah sekian lama sejak tahun 2004 berkecimpung dalam urusan Kurikulum mempunyai motto “berkarya selagi bisa” ini berharap bahwa stakeholder dapat berperan membantu sekolah dalam menciptakan guru-guru yang berprestasi, sebab apapun dapat dilakukan kalau guru tersebut berprestasi. Esdi mengibaratkan “BIBIT AKAN UNGGUL JIKA PETANINYA HEBAT”, walaupun bibitnya tidak unggul tetapi petaninya hebat maka akan menghasilkan swasembada, sebaliknya biarpun bibitnya unggul namun petaninya tidak hebat, kurang inovasi, malas, dsb. maka hasilnya tidak akan maksimal.
Menurut Hery Jhon Setiawan, M.Pd selaku kepala SMAN-2 Muara Teweh tempatnya bertugas selama 13 tahun lebih ini, pria berkacamata minus ini telah banyak melakukan inovasi dalam bidang penilaian pembelajaran seperti mengembangkan rubrik penilaian berbasis komputer sehingga guru-guru di SMAN-2 Muara Teweh termotivasi untuk melakukan dokumentasi penilaian dengan benar dan baik. Hal ini dibuktikan dengan tersediannya berbagai literasi media yang telah dimanfaatkan pihak sekolah sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada orang tua atau stakeholder yang berkepentingan. ”Pihak sekolah mengapresiasi pak Esdi sebagai Guru berprestasi dan merasa bersyukur karena pak Esdi memang telah banyak melakukan inovasi-inovasi dalam bidang penilaian pendidikan sehingga sekolah terbantu dengan apa yang telah beliau lakukan. Ini juga sekaligus membuktikan bahwa sumberdaya yang dimiliki sekolah perlu diperhitungkan, sayang jika beliau tidak dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dalam hal ini instansi terkait, guna mengajarkan atau mendesiminasikan pengetahuannya dibidang ICT dalam pembelajaran dan penilaian, apalagi dalam waktu dekat ini SMAN-2 Muara Teweh akan melaksanakan UNBK atau CBT pada tahun pelajaran 2015/2016 ini” pungkas hery jhon
Mengakhiri bincang-bincang dengan Kalteng Post, Esdi menyampaikan pesan bagi seluruh Guru di Kalimantan Tengah agar dapat membuat budaya prestasi yang tidak hanya menjadi kebanggan diri sendiri tetapi juga daerah, bangsa dan negara. “Semua guru sebaiknya membuat budaya prestasi, dan jangan lupa didokumentasikan, baik secara tertulis maupun foto. Karena itu guru wajib punya laptop, kamera, HP Android/Tablet yang dapat terkoneksikan dengan internet, serta hal-hal lain yang dapat membuat seorang guru menjadi tokoh idola dalam pembelajarannya” cetus Esdi yang sedang mempersipkan diri mengikuti Seleksi Guru SMA Berprestasi Tingkat Nasional pada bulan Nopember 2015 di Jakarta seraya meminta doa dan restu seluruh guru serta masyarakat di Kaliantan Tengah pada umumnya maupun Kabupaten Barito Utara pada khususnya. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s