EDUTAINMENT PROGRAM (EP)

Model Pembelajaran Pembangkit Motivasi Belajar Siswa
Model Pembelajaran Pembangkit Motivasi Belajar Siswa

Dalam proses belajar mengajar yang konvensional tradisional, penggunaan sumber pengajaran masih terbatas pada informasi yang diberikan oleh guru ditambah sedikit dari buku. Sedangkan sumber belajar lain yang dapat merangsang minat belajar siswa kurang mendapat perhatian, padahal sumber belajar banyak terdapat dimana-mana baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.
Untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal, selain memperhatikan isi materi yang diajarkan, sumber belajar dan media pengajaran atau media instruksional juga akan mewarnai hasil belajar. Media pengajaran adalah suatu yang berisi pesan atau tujuan pengajaran. Pesan pengajaran tersebut disampaikan kepada siswa dapat dalam bentuk gambar, film, poster, audio tape dan sebagainya.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat, metode maupun teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukatif antara guru dan anak didik dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna. Satu hal yang harus diingat adalah bahwa informasi yang harus disampaikan melalui media dalam bentuk isi maupun materi pengajaran tersebut harus dapat diterima oleh peserta didik.
a. Konsep Edutainment
Dalam melaksanakan pembelajaran maka guru haruslah memperhatikan isi materi yang diajarkan, sumber belajar dan media pengajaran atau media instruksional Media pembelajaran dapat berbentuk alat peraga, gambar, film, poster, audio tape, program berbantuan komputer, dan sebagainya.
Pada kegiatan belajar mengajar, tidak setiap pembelajaran dalam setiap situasi memerlukan penggunaan alat peraga berupa benda konkrit. Demikian juga penggunaan alat peraga tidak selalu diperlukan alat-alat yang seragam. Ada metode pembelajaran yang tidak menggunakan alat-alat pengajaran lebih dari bahasa lisan, alat tulis dan papan tulis, misalnya pada metode ceramah. Akan tetapi banyak pula kegiatan mengajar sekarang ini yang memerlukan kecakapan guru dalam mengembangkan dan menggunakan alat peraga.
Edutainment berasal dari kata Education dan Entertaint adalah Pembelajaran yang menyajikan gambar dan teks secara virtual berbantuan komputer layaknya siswa menyaksikan pemutaran film, namun disini akan dibuatkan interaksi sehingga siswa merasa dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran sampai mampu menggambarkan hal-hal yang abstrak. Hal ini dapat dimaknai sebagai pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat dan menikmati proses pembelajaran dengan rileks, menyenangkan, bebas dari tekanan, baik fisik maupun psikis.

Untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran maka dapat dibuat alatperaga atau alat bantu belajar berbantuan komputer. Salah satu aplikasi yang cocok dengan adalah Macromedia Flash. Macromedia Flash adalah software yang banyak dipakai oleh desainer web karena mempunyai kemampuan yang lebih unggul dalam menampilkan multimedia, gabungan antara grafis, animasi, suara, serta interaktifitas user. Macromedia Flash merupakan sebuah program aplikasi standar authoring tool profesional yang digunakan untuk membuat animasi vektor dan bitmap yang sangat menakjubkan untuk membuat suatu situs web yang interaktif, menarik dan dinamis. Software ini berbasis animasi vektor yang dapat digunakan untuk menghasilkan animasi web, presentasi, game, film, maupun CD interaktif, CD pembelajaran. Interaksi user dalam movie flash menggunakan Actionscript. Actionscript adalah suatu bahasa pemrograman yang berorientasi objek yang dipakai dalam Macromedia Flash, baik Flash 8 maupun Flash versi sebelumnya.
Macromedia Flash 8 menyediakan fasilitas-fasilitas yang lebih banyak dan menarik yang akan membantu, mempermudah user dalam mempelajari atau menggunakan software ini dibandingkan dengan Flash versi sebelumnya. Animasi-animasi dapat dibuat dengan lebih sederhana, cepat dan lebih menarik menggunakan Flash. Dalam upaya membuat aplikasi pembelajaran berbantuan komputer berbasis Macromedia Flash, maka penulis membuat sebuah program presentasi yang selanjutnya disebut EDUTAINMENT PROGRAM.
Edutainment adalah Pembelajaran yang menyajikan gambar dan teks secara virtual berbantuan komputer layaknya siswa menyaksikan pemutaran film, namun disini akan dibuatkan interaksi sehingga siswa merasa dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran sampai mampu menggambarkan hal-hal yang abstrak. Dalam macromedia Flash dipergunakan layer dan scene secara bertumpuk untuk membentuk tampilan sedemikian rupa hingga menyerupai film (movie). Penulis juga menyertakan suara untuk memperjelas tulisan dan meningkatkan ingatan siswa pada saat belajar. Untuk mengintegrasi nilai-nilai budaya Kalimantan Tengah, maka penulis memasukkan Seni Musik Karungut sebagai Musik Pengantar pada tampilan antar muka Edutainment Program yang dapat di mute/on (mati/hidupkan).

Iklan

KEKUATAN DAN KELEMAHAN TES

I.      TEST OBJEKTIF

Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan darri tes bentuk essai (Arikunto, 2003:164)

Kelebihan Test Objektif yaitu:

  • Lebih respektif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat di hindari campur tangannya unsur-unsur subjektif baik dari segi peserta didik maupun segi guru yang memeriksa.
  • Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi.
  • Pemeriksaanya dapat diserahkan orang lain.
  • Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi.
  • Untuk menjawab test objektif tidak banyak memakai waktu.
  • Reabilitynya lebih tinggi kalau di bandingkan dengan tes Essay, karena penilainnya bersifat objektif.
  • Validitas tes objektif lebih tinggi dari tes essay, karena samplingnya lebih luas.
  • Pemberian nilai dan cara menilai test objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus dari pada si pemberi nilai. (Sukmadinata, 2005:187)
  • Tes Objektif tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan.

Kelemahan Test Objektif yaitu :

  • Persiapan untuk menyusun jauh lebih sulit dari pada tes esai karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelamahan yang lain.
  • Soal-soal cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi.
  • Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
  • Kerjasama antarpeserta didik pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.
  • Peserta didik sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena mereka belum menguasai bahan pelajaran tersebut.
  • Memang test sampling yang diajukan kepada peserta didik- peserta didik cukup banyak, dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk menjawabnya.
  • Tidak biasa mengajak peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi.
  • Banyak memakan biaya, karena lembaran item-item test harus sebanyak jumlah pengikut test.

Cara mengatasi kelemahan

1)          Kesulitan menyusun tes objektif dapat diatasi dengan jalan banyak berlatih terus menerus hingga betul-betul mahir.

2)          Menggunakan tabel spesifikasi untuk mengatasi kelemahan nomor satu dan dua.

3)          Menggunakan norma/standar penilaian yang memperhitungkan faktor tebakan (guessing) yang bersifat spekulatif itu.

BENTUK-BENTUK TES OBJEKTIF:

1.   SALAH- BENAR atau True- False (T- F)

a.     Kelebihan:

  • Soal ini baik untuk hasil- hasil, dimana hanya ada dua alternative jawaban.
  • Tuntutan kurang ditekankan pada kemampuan baca.
  • Sejumlah soal relative dapat dijawab dalam tipe test secara berkala.
  • Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya.

b.     Kelemahan:

  • Sulit menuliskan soal diluar tingkat pengetahuan yang bebas dari maksud ganda.
  • Jawaban soal tidak memberikan bukti bahwa peserta didik mengetahui dengan baik.
  • Tidak ada informasi diagnostic dari jawaban yang salah.
  • Memungkinkan dan mendorong peserta didik untuk menerka-nerka.

2.   PILIHAN BERGANDA atau Multiple Choise ( M- Ch)

a.     Kelebihan:

  • Hasil belajae yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur.
  • Terstruktur dan petunjuknya jelas.
  • Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik.
  • Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban.
  • Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya.

b.     Kelemahan:

  • Menyusunnya membutuhkan waktu yang lama.
  • Sulit menemukan pengacau.
  • Kurang efektif mengukur beberapa tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir dan mengekspresikan ide.
  • Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca.

3.   ISIAN atau Completion

a.     Kelebihan:

  • Sangat mudah dalam penyusunannya.
  • Lebih menghemat tempat ( menghemat kertas ).
  • Persyaratan komprehensif dapat dipenuhi oleh test model ini.
  • Digunakan untuk mengukur berbagai taraf kompetensi dan tidak sekedar mengungkap taraf pengenalan atau hafalan saja.

b.     Kelemahan:

  • Lebih cenderung mengungkap daya ingat atau aspek hafalan saja.
  • Butir- butir item dari test model ini kurang relevan untuk diajukan.
  • Tester kurang berhati-hati dalam menyusun kalimat dalam soal.

4.   JAWABAN SINGKAT atau SHORT ANSWER

a.     Kelebihan:

  • Mudah dalam perbuatan
  • Kemungknan menebak jawaban sangat sulit
  • Cocok untuk soal- soal hitungan
  • Hasil- hasil pengetahuan dapat diukur secara luas

b.     Kelemahan:

  • Sulit menyusun kata- kata yang jawabannya hanya satu.
  • Tidak cocok untuk mengukur hasil- hasil belajar yang komplek.
  • Penilaian menjemukan da memerlukan waktu banyak.

5.   MENJODOHKAN atau MATCHING

a.     Kelebihan:

  • Suatu bentuk yang efisien diberikan dimana sekelompok respon sama menyesuaikan dengan rangkaian isi soal.
  • Waktu membaca dan merespon relative singkat.
  • Mudah untuk dibuat.
  • Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya.

b.     Kelemahan:

  • Materi soal dibatsi oleh factor ingatan/ pengetahuan yang sederhana dan kurang dapat dipakai untuk mengukur penguasaan yang bersifat pengertian dan kemampuan membuat tafsiran.
  • Sulit menyusun soal yang mengandung sejumlah respon yang homogen.
  • Mudah terpengaruh dengan petunjuk yang tidak relevan.

II.    TEST SUBJEKTIF

Pada umumnya berbentuk tes esai (uraian) tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-ciri pertanyaanya didahului dengan kata-kata seperti, uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya (Arikunto, 2003:162).

Kelebihan Test Subjektif yaitu:

  • Mudah dipersiapkan dan disusun
  • Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan
  • Mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat serta menysuun dalam bentuk kalimat yang bagus
  • Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan carannya sendiri.
  • Dapat mengetahui sejauhmana peserta didik mendalami suatu masalah yang diujikan/dites.

Kelemahan Test Subjektif yaitu:

  • Terbatasnya lingkup bahan pelajaran yang dinilai dan sulitnya mengoreksi jawaban dengan objektif (Sudjana, 2001:262)
  • Kadar validitas dan realibilitas rendah karena sukar diketahui segi-mana dai pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai.
  • Kurang representatif dalam hal mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya hanya beberapa saja (terbatas)
  • Cara pemeriksaannya banyak dipengaruhi oelh unsur-unsur subjektif
  • Pemeriksaaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai.
  • Waktu untuk koreksinya lama dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.

Cara mengatasi kelemahan:

1)  Soal-soal tes dapat meliputi ide-ide pokok dari bahan yang akan dites (berdifat komprehensif)

2)  Soal sebaiknya tidak diambil dari kalimat-kalimat yang disalin langsung dari buku/catatan

3)  Soal sebaiknya dilengkapi dengan kunci jawaban dan pedoman penilaiannya.

4) Soal sebaiknya menggunakan variasi pertanyaan “jelaskan”, “Mengapa”, “Bagaimana”, “Seberapa Jauh”, agar dapat diketahui  lebih jauh penguasaan peserta didik terhadap bahan yang dites.

5) Sebaiknya rumusan soal dibuat sedemikain rupa sehingga mudah dipahami oleh peserta didik

6) Bentuk pertanyaan sebaiknya tidak berbentuk umum, tetapi harus spesifik

Bentuk-bentuk Tes Subjektif:

1.   TES ESSAY

a.     Kelebihan:

  • Peserta didik dapat mengorganisasikan jawaban dengan pendapatnya sendiri.
  • Peserta didik tidak dapat menerka- nerka jawaban soal.
  • Test ini sangat cocok untuk mengukur dan mengevaluasi hasil suatu proses belajar yang kompleks yang sukar diukur dengan mempergunakan test objektif.
  • Derajad ketepatan dan kebenaran peserta didik dapat dilihat dari kalimat- kalimatnya.
  • Jawaban diungkapakan dalam kata- kata dan kalimat sendiri, sehingga test ini dapat digunakan untuk melatih penyusunan kalimat dengan bahasa yang baik, benar, dan cepat.
  • Test ini digunakan dapat melatih peserta didik untuk memilih fakta yang relevan dengan persoalan, dan Sukar dinilai secara tepat mengorganisasikannya sehingga dapat mengungkapkan satu hasil pemikiran yang terintegrasi secara utuh.

b.     Kelemahan:

  • Sukar dinilai secara tepat.
  • Bahan yang diukur terlalu sedikit, sehingga agak sulit untuk mengukur penguasaan peserta didik terhadap keseluruhan kurikulum.
  • Sulit mendapatkan soal yang memiliki standar nasional maupun internasional.
  • Membutuhkan waktu memeriksa hasilnya.

2.     TES LISAN

Tes lisan adalah tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik.  tes ini termasuk kelompok tes verbal, yaitu tes soal dan jawabannya menggunakan bahasa lisan.

Dari segi persiapan dan cara bertanya, tes lisan dapat dibedakan  menjadi dua yakni:

a)    Tes lisan bebas, yaitu pendidik dalam memberikan soal kepada peserta didik tanpa menggunakan pedoman yang dipersiapkan secara tertulis

b)   Tes lisan berpedoman, yaitu pendidik menggunakan pedoman tertulis tentang apa yang akan ditanyakan kepada peserta didik.

a.     Kelebihan:

  • Dapat menilai kemampuan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki peserta didik, sikap, serta kepribadiannya karena dilakukan secara berhadapan langsung.
  • Bagi peserta didik yang kemampuan berpikirnya relatif lambat sehingga sering mengalami kesukaran dalam memahami pernyataan soal, tes bentuk ini dapat menolong sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang dimaksud.
  • Hasil tes dapat langsung diketahui peserta didik.

b.     Kelemahan:

  • Subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes,
  • Waktu pelaksanaan yang diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara : Jakarta.

Sudjana, Nana.2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Sinar Baru Algesindo : Bandung.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Pengembangan Kurikulum : Teori dan Praktek. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.

UJIAN NASIONAL

Ujian Akhir Nasional (UAN) selama ini hanya diperlakukan sebagai agenda tahunan yang tidak memberikan pengaruh berarti terhadap upaya pembina dan pengelola serta pelaksana pendidikan pada tingkat sekolah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan. Masukan berupa informasi pendidikan yang diperoleh lewat Ujian Akhir Nasional seringkali hanya diperlakukan sebagai barang pajangan dan menjadi dokumen.

Pemanfaatan data hasil ujian akhir nasional hanya sebatas pada bahan kajian beberapa peneliti di Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) untuk kepentingan kenaikan pangkat/jabatan peneliti; sedangkan para pejabat pengelola kebijakan pada tingkat pusat (direktorat, Puspendik, dan pusat kurikulum) hampir dapat dipastikan tidak akan menyentuh dan memperbincangkannya lagi sampai masa ujian berikutnya.

Keteguhan sikap Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) yang mempertahankan adanya UAN pada sistem pendidikan menengah patut dihormati. Namun, pandangan dan pemikiran kritis terhadap praktik ujian akhir nasional tersebut harus diutarakan agar sasaran yang dibuat dapat lebih proporsional, terarah, dan pencapaiannya dapat dimaksimalkan.

Meskipun praktik ujian akhir nasional dapat digunakan untuk memPengaruhi kualitas pendidikan, namun asumsi dan rasionalitas yang digunakan pada high stake exams (seperti UAN ini) pada umumnya sering bertentangan dengan kenyataan di lapangan. Sebagaimana diketahui bahwa realitas pendidikan  di Indonesia sangat beragam, apakah itu sarana-prasarana pendidikan, sumber daya guru, dan kepemimpinan (school leadership).

Diskrepansi dan disparitas kualitas pendidikan yang begitu lebar sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan pengelola pendidikan pada tingkat pusat, daerah, dan sekolah semakin menguatkan tuduhan masyarakat selama ini bahwa penggunaan instrumen UAN untuk menentukan kelulusan peserta didik dan seleksi peserta didik ke jenjang pendidikan tinggi berpotensi misleading, bias, dan melanggar keadilan dalam tes.

Selain itu, instrumen UAN yang akan digunakan pun sebenarnya masih menyimpan berbagai pertanyaan mendasar yang menuntut jawaban (baca: pembuktian), khususnya menyangkut metodologi, terutama pada saat melakukan interpretasi terhadap hasil skor tes dan pemanfaatannya agar sesuai dengan tujuan diselenggarakannya UAN (validity evidence).

Pemanfaatan ganda (multiple purposes) hasil skor ujian yang bersifat tunggal semacam UAN menyimpan berbagai potensi permasalahan mendasar secara metodologis, yang sebenarnya sudah sangat diketahui dan dipahami jajaran Puspendik pada Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Namun, yang agak mencengangkan dan mengundang pertanyaan, mengapa potensi kesalahan seperti pemanfaatan hasil skor UAN untuk berbagai keperluan dan tujuan secara bersamaan tidak dikemukakan secara jujur kepada masyarakat pemakai (users) produk pendidikan dan stakeholders. Kenapa Puspendik tidak mengusulkan pemanfaatan hasil skor UAN hanya sebatas pada alat pengendali mutu pendidikan nasional, sebagaimana yang dilakukan oleh National Assessment of Educational Progress (NAEP) di Amerika Serikat, dan bukan untuk penentuan kelulusan (sertifikasi), apalagi sebagai tujuan untuk seleksi dan memecut mutu pendidikan sehingga persoalan metodologi yang mungkin timbul dapat dihindarkan.

Ujian atau tes seharusnya berfungsi sebagai alat rekam dan atau prediksi. Sebagai alat rekam untuk memotret, tes biasanya diselenggarakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap suatu materi atau sejumlah materi dan keterampilan yang sudah diajarkan/dipelajari sesuai dengan tujuan kurikulum sehingga guru dapat menentukan langkah-langkah program pengajaran berikutnya. Selain itu, tes juga bisa digunakan sebagai alat prediksi sebagaimana yang lazim digunakan pada tes seleksi masuk perguruan tinggi atau tes-tes yang digunakan untuk menerima pegawai baru atau promosi jabatan pada suatu perusahaan atau instansi pemerintah. Sebagai alat prediksi, hasil tes diharapkan mampu memberikan bukti bahwa seorang dapat melakukan tugas atau pekerjaan yang akan diamanatkan kepadanya.

Apabila hasil tes yang digunakan mampu menunjukkan bukti terhadap peluang keberhasilan seorang kandidat mahasiswa atau calon pegawai melakukan tugas dan pekerjaan di hadapannya, tes itu diyakini memiliki kelayakan validity evidences.

Ujian atau tes sebenarnya hanyalah sebuah alat (bukan tujuan) yang digunakan untuk memperoleh informasi pencapaian terhadap proses pendidikan yang sudah dilakukan dan atau yang akan diselenggarakan. Ujian atau tes tidak berfungsi untuk memecut, apalagi memiliki kemampuan mendorong mutu.

Namun, ujian atau tes memiliki kemampuan untuk memengaruhi proses pembelajaran di tingkat kelas sehingga menjadi lebih baik dan terarah sesuai dengan tuntutan dan tujuan kurikulum. Karena ujian hanya mampu memengaruhi pada proses pembelajaran pada tingkat kelas, maka pengaruh yang diakibatkannya tidak senantiasa positif. Sebaliknya, pengaruh itu dapat juga sangat bersifat destruktif terhadap kegiatan pendidikan, seperti apabila guru hanya memfokuskan kegiatan pembelajaran pada latihan-latihan Ujian Akhir Nasional atau pimpinan sekolah sengaja mengundang dan membiarkan Bimbingan Belajar masuk ke dalam sistem sekolah untuk mengedril siswa yang akan menempuh ujian akhir itu. Dalam bahasa testing kegiatan itu disebut teaching for the test. Praktik pendidikan semacam itu sangat bertentangan dengan tujuan diselenggarakannya pendidikan formal di negara mana pun karena akan menyebabkan terjadinya proses penyempitan kurikulum (curriculum contraction).

Unsur yang paling pokok dan sangat penting yang harus diperhatikan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat interpretasi hasil skor tes siswa peserta ujian adalah validitas. Konsep validitas ini sebelumnya dipahami sebagai sebuah konsep yang terfragmentasi sehingga sering mengantarkan praktisi penilaian pendidikan kepada kebingungan dan berpikir secara keliru.

Studi validitas dilakukan untuk membuktikan bahwa kegiatan interpretasi dan pemanfaatan hasil skor tes yang ada sudah sesuai dengan tujuan diselenggarakan ujian. Sebagai misal, apabila guru menyusun seperangkat tes kemampuan/keterampilan membaca yang digunakan sebagai alat ukur untuk menentukan kelulusan (sertifikasi) SMA. Bagaimana cara guru menilai apakah proses interpretasi hasil ujian itu sudah dilakukan secara valid? Untuk keperluan itu guru harus membuat sejumlah pertanyaan, antara lain: apakah hasil skor tes itu sudah merupakan alat ukur yang sesuai dan tepat untuk tujuan di muka, yaitu untuk mengukur kemampuan/keterampilan membaca.

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu fungsi ujian akhir adalah untuk memberikan ijazah yang menunjukkan bahwa peserta didik sudah belajar atau menguasai keterampilan membaca sebagaimana yang diminta pada kurikulum. Atas dasar itu, bukti-bukti validitas yang diperlihatkan harus mampu membuktikan bahwa skor yang diperoleh benar sudah mengukur keterampilan membaca, sebagaimana yang dijabarkan pada tujuan kurikulum.

Terdapat banyak sekali bukti yang harus dikumpulkan untuk melakukan kegiatan interpretasi terhadap hasil skor tes itu. Guru harus dapat menunjukkan bahwa instrumen tes yang digunakan sudah sesuai dengan tujuan pelajaran keterampilan membaca pada kurikulum. Selain itu, guru juga harus mampu menunjukkan bahwa jumlah jawaban yang benar pada soal tes betul-betul sudah sejalan dengan penekanan kegiatan pengajaran membaca pada kurikulum. Lebih dari itu, guru juga harus mampu menunjukkan bahwa keterampilan membaca teks singkat yang tercermin dari kemampuan peserta didik menjawab dengan benar soal pilihan ganda itu memiliki kualifikasi yang sama apabila yang bersangkutan diberikan teks bacaan yang lebih panjang, atau membaca novel, artikel surat kabar. Guru harus mampu membuktikan bahwa konten bacaan yang disajikan pada soal tes sudah merupakan representasi dari isi bacaan yang dianggap penting dan challenging yang mampu menggali kemampuan/keterampilan membaca peserta didik yang lebih dalam dan ekstensif; jadi bukan hanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat superficial, faktual, atau trivial.

Apabila guru tidak mampu menunjukkan seluruh bukti sebagaimana telah disebutkan di atas, validitas interpretasi yang dibuat terhadap hasil skor tes sangat lemah. Selain itu, guru juga harus mampu membuktikan bahwa skor yang tinggi yang diperoleh peserta didik bukan semata-mata sebagai akibat dari test wiseness, yaitu kemampuan siswa menjawab soal dengan benar sebagai akibat dari format soal pilihan ganda, tutorial khusus yang diberikan menjelang tes, seperti kegiatan bimbingan tes, les, menyontek, dan seterusnya. Lebih dari itu guru juga harus mampu menunjukkan bahwa skor rendah yang diperoleh siswa bukan hanya semata-mata disebabkan oleh faktor kegugupan pada diri peserta didik pada saat ujian. Selain itu, guru juga harus mampu menunjukkan bahwa latar belakang budaya peserta didik tidak membawa pengaruh terhadap kemampuan mereka menjawab soal tes dengan benar.

Semua faktor yang disajikan di muka dapat merupakan ancaman terhadap interpretasi validitas sebuah alat ukur yang bersifat tunggal (seperti pada UN) yang digunakan untuk mendeteksi kemampuan/keterampilan membaca. Apabila guru tidak mampu menunjukkan bukti (evidences), hasil ujian berupa skor tes untuk mengukur kemampuan/keterampilan membaca memiliki tingkat validitas yang rendah.

Ujian Nasional adalah salah satu bentuk dari Standart Test (ST) yang memiliki masalah bertumpuk-tumpuk, bahkan dari sisi konsep dasar pendidikan. Ujian Nasional orientasinya baik, hanya pelaksanaannya saja yang masih tidak sempurna sehingga memerlukan perbaikan. Masalah tersebut antara lain:

Ujian akhir nasional tidak bersifat adil dan tidak dapat berfungsi sebagai alat evaluasi yang bermanfaat. Pada dasarnya, dalam Ujian akhir nasional seluruh peserta didik menjawab pertanyaan yang sama, biasanya dalam format pilihan ganda, dimana setiap pertanyaan hanya memiliki satu jawaban benar. Peserta didik mendapat poin atas kemampuannya menjawab dengan cepat pertanyaan-pertanyaan superfisial yang tidak terlalu membutuhkan pemikiran mendalam. Ujian akhir nasional tidak mengukur kemampuan berpikir atau mencipta di setiap bidang. Umumnya kurikulumnya sempit dan menggunakan metode instruksi yang tradisional.

Ujian akhir nasional tidak bersifat objektif. Bagian yang objektif dari Ujian akhir nasional hanya terjadi pada saat proses penilaian yang dilakukan dengan memindai LJK menggunakan Scanner dan komputer. Bagian yang tidak bersifat objektif, misalnya proses menentukan soal mana yang masuk tes, bagaimana menyusun kata-kata dan konten dalam soal, bagaimana cara menentukan jawaban yang “benar”, pemilihan jenis tes, bagaimana tes dikelola, dan bagaimana cara penggunaan hasil tesnya, semuanya adalah keputusan manusia yang bersifat subjektif.

Hasil Ujian akhir nasional tidak terlalu bisa diandalkan. Sebuah tes hanya bisa disebut reliable jika guru mendapat hasil yang sama saat mengambil ujian itu kedua kalinya. Seluruh tes pasti memiliki “measurement error”. Artinya, nilai seorang individu bisa bervariasi dari hari ke hari, tergantung faktor-faktor seperti situasi dan kondisi saat tes diadakan, atau kondisi mental dan emosional individu itu sendiri. Sering diketahui bahwa peserta didik tertimpa masalah sebelum menjalankan UN, misal sakit atau ada permasalahan keluarga di rumah, dan lain sebagainya, sehingga mempengaruhi hasil ujian dan akhirnya mengakhiri usahanya selama tiga tahun belajar di sekolah?

Hasil Ujian akhir nasional tidak menunjukan perbedaan yang nyata antar peserta didik. Kebanyakan Ujian akhir nasional berformat annormal-referenced test, atau tes di mana setengah peserta didik akan mendapat nilai di bawah rata-rata, setengahnya lagi di atas rata-rata. Untuk membangun tes semacam ini, pembuat tes harus membuat perbedaan kecil antar tiap orang menjadi tampak besar.

Tes yang mengklaim melakukan pengukuran yang sama pun sering memuat soal yang berbeda-beda sehingga hasilnya beda pula. Contoh, TOEFL atau TPA yang dilakukan hari ini, lalu di lakukan lagi besok, nilainya pasti berbeda. Lebih seru lagi, apabila tes yang dilakukan hari ini dengan teman hasilnya beda jauh, ketika diambil tes keesokan harinya nilainya bisa jadi sama. Tes semacam ini tidak dapat dipakai untuk menilai perbedaan kemampuan guru dan teman guru.

Ujian akhir nasional mengandung bias. Para pembuat tes sebenarnya telah berusaha menyingkirkan bias, seperti kata-kata kasar (misal kasus di Sidoarjo di mana kata-kata mesum bisa masuk ke ujian sekolah). Namun tetap saja tidak cukup, karena banyaknya bentuk bias itu tidak superfisial dan sering terlewat. Misalnya bias karena mengasumsikan pengambil tes hanya terdiri dari budaya, ras, tingkat ekonomi tertentu. Kalau di UAN misalnya bias karena menganggap semua peserta didik yang mengambil tes telah melewati masa pendidikan di sekolah dengan fasilitas yang cukup serta guru yang memadai.

Ujian akhir nasional tidak merefleksikan apa yang guru ketahui tentang cara belajar peserta didik. Ujian akhir nasional didasarkan pada teori psikologi behavioris dari abad ke-19, sedangkan pemahaman guru tentang cara kerja otak dan bagaimana manusia belajar dan berpikir telah berkembang jauh. Teori abad ke-19 itu mengasumsikan bahwa pengetahuan bisa dipecah menjadi bagian kecil-kecil dan bahwa peserta didik belajar pengetahuan dengan cara menyerap bagian-bagian kecil ini secara pasif.

Saat ini guru telah paham bahwa pengetahuan itu tidak dipecah menjadi kecil-kecil dan bahwa manusia (termasuk anak-anak) belajar dengan cara menyambungkan apa yang mereka sudah tahu dengan apa yang hendak mereka pelajari. Kalau mereka tidak bisa menciptakan konteks dari apa yang mereka lakukan, mereka tidak akan belajar atau mengingatnya. Ujian akhir nasional tidak mengakomodasi hal ini dan masih mendasarkan tesnya pada proses mengingat fakta-fakta kecil dan terisolasi serta keahlian sempit (Arikunto, 2003:24-50)

Tes pilihan berganda tidak dapat dipakai untuk mengukur pencapaian penting peserta didik. Tes pilihan berganda sangat lemah dalam mengukur performa peserta didik.  Tes itu tidak mengukur kemampuan menulis, menggunakan matematika, mencari makna saat membaca, memahami metode atau argumentasi ilmiah, atau menangkap konsep ilmu sosial. Tes pilihan berganda juga tidak cukup mengukur kemampuan berpikir atau menilai apa yang bisa dilakukan seseorang dalam tugas-tugas di dunia nyata.

Hasil Ujian akhir nasional tidak membantu guru dalam mengelola pendidikan bagi peserta didiknya. Ujian akhir nasional, yang umumnya berbentuk pilihan berganda, pada awalnya tidak dirancang untuk membantu guru. Survei di kelas-kelas menunjukkan bahwa guru tidak menanggap nilai Ujian akhir nasional dapat membantu mereka, sehingga jarang digunakan. Ujian akhir nasional tidak menyediakan informasi yang bisa membuat guru memahami apa yang selanjutnya harus dilakukan dengan peserta didiknya karena hasil tes tidak mengindikasikan cara peserta didik belajar maupun berpikir.

Uraian tersebut di atas mencoba menyampaikan tentang apa-apa saja yang salah pada konsep Ujian Nasional sebagai salah satu bentuk Standardized Test (Manfaat buruk Ujian akhir nasional bagi pendidikan).

Menurut penulis, ujian akhir nasional boleh tetap ada, tetapi dilakukan hanya untuk pemetaan distribusi kualitas pendidikan di Indonesia, serta tidak untuk faktor penentu kelulusan (mau satu-satunya atau salah satunya, sama saja buruknya). Ujian akhir nasional dapat diberlakukan sebagai tes untuk masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti konsep SAT (Scholastic Aptitude Test and Scholastic Assessment Test, dan ACT (American College Testing) di Amerika, atau Ebtanas pada masa lalu. Sedangkan kelulusan peserta didik sebaiknya ditentukan oleh evaluasi yang dilakukan oleh guru secara terus menerus selama proses belajar di sekolah.

 

Kosa kata

Diskrepansi = ketidaksesuaian, disparitas = perbedaan/kesenjangan

Misleading = menyesatkan; superficial = dangkal, trivial = sepele

Kepustakaan

______, 2011. ACT (American College Testing) http://en.wikipedia.org/wiki/Test_Act diunduh tanggal 19 Maret 2011

______, 2011. SAT (Scholastic Aptitude Test and Scholastic Assessment Test. http://en.wikipedia.org/wiki/SAT diunduh tanggal 19 Maret 2011

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Penerbit Bumi Aksara : Jakarta.

UJIAN (Mengukur Apa Yang Diketahui Siswa)

(Mengukur Apa yang diketahui peserta didik atau Mengukur apa yang tidak diketahui peserta didik)

 

Dalam konteks akademis atau profesional, ujian adalah tes yang bertujuan untuk menentukan kemampuan seorang. Biasanya ujian dilakukan dalam bentuk tes tertulis, beberapa mungkin ada yang dilakukan secara praktis atau komponen praktis, dan sangat bervariasi dalam struktur, isi dan kesulitan tergantung pada subjek, kelompok usia orang yang diuji serta profesi. Seseorang yang telah melewati ujian akan menerima ijazah, sebuah surat keterangan, tergantung pada tujuan tes. Tes kompetitif adalah ujian di mana pelamar bersaing untuk sejumlah posisi, sebagai lawan hanya harus mencapai tingkat tertentu untuk lulus.

Menurut Suharsimi Arikunto (2003:33), ujian adalah kegiatan untuk mengukur keberhasilan program pengajaran. Menurut Amir Daien Indrakusuma, dalam Arikunto (2002:32), Ujian adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keteranga-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat. Menurut Scarvia B. Anderson (1976:425), Ujian adalah penilaian yang komprehensif terhadap individu atau keseluruhan usaha evaluasi program. Dari beberapa kutipan di atas, dapat diketahui bahwa ujian/tes merupakan alat pengumpul informasi untuk mengukur keberhasilan program yang telah diajarkan kepada peserta didik.

Ujian atau tes sebenarnya berfungsi sebagai alat rekam dan atau prediksi. Sebagai alat rekam untuk memotret, ujian/tes biasanya diselenggarakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap suatu materi atau sejumlah materi dan keterampilan yang sudah diajarkan/dipelajari sesuai dengan tujuan kurikulum sehingga guru dapat menentukan langkah-langkah program pengajaran berikutnya.

Selain itu, tes juga bisa digunakan sebagai alat prediksi sebagaimana yang lazim digunakan pada tes seleksi masuk perguruan tinggi atau tes-tes yang digunakan untuk menerima pegawai baru atau promosi jabatan pada suatu perusahaan atau instansi pemerintah. Sebagai alat prediksi, hasil tes diharapkan mampu memberikan bukti bahwa seorang dapat melakukan tugas atau pekerjaan yang akan diamanatkan kepadanya. Apabila hasil tes yang digunakan mampu menunjukkan bukti terhadap peluang keberhasilan seorang kandidat mahasiswa atau calon pegawai melakukan tugas dan pekerjaan di hadapannya, tes itu diyakini memiliki kelayakan validity evidences.

Ujian atau tes sebenarnya hanyalah sebuah alat (bukan tujuan) yang digunakan untuk memperoleh informasi pencapaian terhadap proses pendidikan yang sudah dilakukan dan/atau yang akan diselenggarakan. Ujian atau tes tidak berfungsi untuk memecut, apalagi memiliki kemampuan mendorong mutu.

Namun, ujian atau tes memiliki kemampuan untuk memengaruhi proses pembelajaran di tingkat kelas sehingga menjadi lebih baik dan terarah sesuai dengan tuntutan dan tujuan kurikulum. Karena ujian hanya mampu mempengaruhi pada proses pembelajaran pada tingkat kelas, maka pengaruh yang diakibatkannya tidak senantiasa positif. Sebaliknya, pengaruh itu dapat juga sangat bersifat destruktif terhadap kegiatan pendidikan, seperti apabila guru hanya memfokuskan kegiatan pembelajaran pada latihan-latihan Ujian Akhir Nasional (UAN) atau pimpinan sekolah sengaja mengundang dan membiarkan Bimbingan Belajar masuk ke dalam sistem sekolah untuk mengdrill peserta didik yang akan menempuh ujian akhir nasional (UAN). Dalam bahasa testing kegiatan itu sering disebut teaching for the test. Praktik pendidikan semacam itu sangat bertentangan dengan tujuan diselenggarakannya pendidikan formal di negara mana pun karena akan menyebabkan terjadinya proses penyempitan kurikulum (curriculum contraction).

Unsur yang paling pokok dan sangat penting yang harus diperhatikan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat interpretasi hasil skor tes peserta didik peserta ujian adalah validitas. Konsep validitas ini sebelumnya dipahami sebagai sebuah konsep yang terfragmentasi sehingga sering mengantarkan praktisi penilaian pendidikan kepada kebingungan dan berpikir secara keliru.

Studi validitas dilakukan untuk membuktikan bahwa kegiatan interpretasi dan pemanfaatan hasil skor tes yang ada sudah sesuai dengan tujuan diselenggarakan ujian. Sebagai misal, apabila kita menyusun seperangkat tes kemampuan/keterampilan membaca yang digunakan sebagai alat ukur untuk menentukan kelulusan (sertifikasi) SMA. Bagaimana cara kita menilai apakah proses interpretasi hasil ujian itu sudah dilakukan secara valid? Untuk keperluan itu kita harus membuat sejumlah pertanyaan, antara lain: apakah hasil skor tes itu sudah merupakan alat ukur yang sesuai dan tepat untuk tujuan di muka, yaitu untuk mengukur kemampuan/keterampilan membaca.

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu fungsi ujian adalah untuk memberikan sertifikasi bahwa peserta didik sudah belajar atau menguasai keterampilan membaca sebagaimana yang diminta pada kurikulum. Atas dasar itu, bukti-bukti validitas yang diperlihatkan harus mampu membuktikan bahwa skor yang diperoleh benar sudah mengukur keterampilan membaca, sebagaimana yang dijabarkan pada tujuan kurikulum.

Terdapat banyak sekali bukti yang harus dikumpulkan untuk melakukan kegiatan interpretasi terhadap hasil skor tes itu. Kita dapat menunjukkan bahwa instrumen tes yang digunakan sudah sesuai dengan tujuan pelajaran keterampilan membaca pada kurikulum. Selain itu, kita juga harus mampu menunjukkan bahwa jumlah jawaban yang benar pada soal tes betul-betul sudah sejalan dengan penekanan kegiatan pengajaran membaca pada kurikulum. Lebih dari itu, kita juga harus mampu menunjukkan bahwa keterampilan membaca teks singkat yang tercermin dari kemampuan peserta didik menjawab dengan benar soal pilihan ganda itu memiliki kualifikasi yang sama apabila yang bersangkutan diberikan teks bacaan yang lebih panjang, atau membaca novel, artikel surat kabar. Kita juga harus mampu membuktikan bahwa konten bacaan yang disajikan pada soal tes sudah merupakan representasi dari isi bacaan yang dianggap penting dan challenging yang mampu menggali kemampuan/keterampilan membaca peserta didik yang lebih dalam dan ekstensif; jadi bukan hanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat superficial, faktual, atau trivial.

Apabila kita tidak mampu menunjukkan seluruh bukti di muka, validitas interpretasi yang dibuat terhadap hasil skor tes sangat lemah. Selain itu, kita juga harus mampu membuktikan bahwa skor yang tinggi yang diperoleh peserta didik bukan semata-mata sebagai akibat dari test wiseness, yaitu kemampuan peserta didik menjawab soal dengan benar sebagai akibat dari format soal pilihan ganda, tutorial khusus yang diberikan menjelang tes, seperti kegiatan bimbingan tes, menyontek, dan seterusnya. Lebih dari itu kita juga harus mampu menunjukkan bahwa skor rendah yang diperoleh peserta didik bukan hanya semata-mata disebabkan oleh faktor kegugupan pada diri peserta didik pada saat ujian. Selain itu, kita juga harus mampu menunjukkan bahwa latar belakang budaya peserta didik tidak membawa pengaruh terhadap kemampuan mereka menjawab soal tes dengan benar.

 

SIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil suatu simpulan bahwa ujian atau tes adalah mengukur apa yang diketahui oleh peserta didik setelah pembelajaran berlangsung.

 

Daftar Pustaka

________, 2009. http://bangfajars.wordpress.com/2009/10/04/pengertian-ujian/  diunduh tanggal 18 Maret 2011, pukul 21:42 pm

Anderson, Scarvia B.  1976. Encyclopedia of Education Evaluation. Jossey Bass Publisher : San Fransisco, Washington, London.

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evalusi Pendidikan, Edisi Revisi. Penerbit Bumi Aksara : Jakarta.

KEBENARAN ABSOLUT

Latar belakang

Mengingat semakin membudayanya “Relativisme” yg merupakan suatu isme / kepercayaan (yg semakin nge-trend) yang mengatakan bahwa: Kebenaran yang Objective itu sebenarnya tidak ada (There is no objective truth) dan semua agama itu sama benarnya, maka ada baiknya jika kita bisa sedikit membahas masalah “Kebenaran”.

Oleh karena kebenaran itu selalu bersifat absolute & objective, maka kebenaran itu merupakan sesuatu yg penting dan mendasar.

Yang namanya “Kebenaran Absolut & Objective” ini, bukan saja ada, tapi juga dapat diketahui dan , kita tidak dapat hidup dan berfungsi secara produktive tanpa mengakui dan mengetahui adanya kebenaran yang absolute.

Di dalam Kekristenan,”kebenaran” merupakan sesuatu yang penting dan mendasar karena agama Kristen mengkleim memiliki kebenaran objective tentang Allah dan tentang jalan menuju Allah melalui Yesus Kristus.

Seandainya “Kebenaran” itu tidak objective, not real, dan un-knowable( tak dpt diketahui), maka Kekristenan itu bukan saja sesat tapi juga dusta, curang dan palsu.

Nah masalahnya, setiap agama dan kepercayaan mengkleim agamanya lah yang benar,and that’s ok !

Tapi,….. apakah itu berarti bahwa semua agama itu benar ?

Apakah benar, bahwa semua agama pada dasarnya mengajar ajaran yang sama, hanya cara penyampaiannya saja yang berbeda ?

Apakah benar bahwa semua agama itu tujuannya satu tapi jalannya masing-masing lain-lain, seperti beberapa orang yang mendaki gunung melalui jalurnya masing-masing, tapi tiba pada puncak yang sama ?

Apakah Kristen sama benarnya dengan Islam ?

Apakah Islam sama benarnya dengan Buddha ?

Apakah Buddha sama benarnya dengan Kristen ?

Apakah Hindu sama benarnya dengan Islam ?

Apakah semua agama-agama ini sama benarnya ?

THE NATURE OF TRUTH & RELATIVISM

Memang ada banyak pandangan/pengertian mengenai sifat/definisi dari kebenaran. Hal ini merupakan akibat dari kekacauan/kebingungan yg terjadi antara sifat/definisi dari kebenaran dan test/defense dari kebenaran.

Atau hal ini juga dapat terjadi karena kebanyakan orang tidak dapat membedakan antara result dan rule.

Kita dapat mengerti Kebenaran secara Positive dan Negative, yaitu Kebenaran Adalah…. dan Kebenaran Bukanlah…..

Mari kita mulai dengan pengertian negative nya:

Kebenaran Bukanlah……

1. Truth is not ” that which works ” (Pragmatis)

Suatu theory tentang kebenaran yg popular adalah pandangan pragmatis dari William James. Menurut William : kita bisa tahu bahwa sesuatu pernyataan/statement itu benar apabila it brings the right results. Dengan kata lain: sesuatu itu benar, jikalau sesuatu itu ber-hasil.

Problem:

Pandangan ini tidak dapat membedakan Sebab dari Akibat.

Kalau sesuatu itu benar, maka hal itu akan berhasil,…walaupaun dalam jangka panjang.

Tapi hanya karena sesuatu itu ber-hasil, bukan berarti bahwa hal itu benar.

Contoh:

Sering kali dengan berbohong, sesorang berhasil mendapatkan apa yg diinginkannya, tetapi, bukan berarti bohong/dusta itu benar.

Lies often work, but that does nott make them true.

Jadi:

Hasil / akibat / result, tidak dapat dijadikan definisi dari kebenaran.

Lagi pula, pandangan Pragmatis ini hanya berlaku untuk kebenaran praktis, tapi tidak mencakup kebenaran matematis (2+2=4) dan kebenaran factual (tree has green leaves), for these are not true because they work, but because they correspond to the way things are, whether in the abstract or in concrete.

2. Truth is not ” that which coheres ” (Coherentis)

Kebenaran bukanlah ” sesuatu yg berkaitan / berhubungan ”

Ada pula yg mengatakan bhw kebenaran itu adalah sesuatu yg berkaitan / sesuatu yang internally consistent / sesuatu yg memiliki self consistency.

Ini juga merupakan definisi kebenaran yg kurang tepat karena alasan alasan berikut :

Pernyataan pernyataan yg hampa ( empty statements ) dapat berkaitan satu sama lain , walaupun pernyataan pernyataan tsb kosong ( tak ada isinya ).

Contoh :

” All Husbands Are Married Men ”

That statement is internally consistent , but it is empty. It does not tell us about reality.

The statement would be so even if there were no husbands.

It really means , ” If there is a husband, then he must be married ” . But it does not inform us that there is a husband anywhere in the universe.

Contoh lain:

Saksi palsu atau suatu cerita yang dibuat buat .

Berkonspirasi untuk berbohong di pengadilan.

Semuanya itu harus consistent tapi bukan berarti itu benar.

Yang jelas , Coherence is only a negative test of truth.

Statements are wrong if they inconsistent , but not necessarily true because they are consistent

3. Truth is not ” that which was intended ” ( Intensionalis )

Ada juga yg mengatakan bhw kebenaran tergantung pada intensi kita ( maksud hati ).

Jadi : Sebuah pernyataan itu benar , kalau si pembuat pernyataan itu bermaksud benar , dan sebuah pernyataan itu salah , kalau si pembuat pernyataan itu tidak bermaksud benar.

Problem :

Ada banyak statement yg dinyatakan yg tidak selalu sesuai dengan intensi si pembuat statement tsb.

Slip tongue ( salah ngomong ) sering terjadi.

Tapi kalau sebuah statement itu benar , hanya karena intensinya benar , maka , walaupun statement tsb salah , kesalahan tsb menjadi benar , demikian pula sebaliknya.

Ada banyak orang yang tulus dan sincere , yg membuat statement dengan tujuan yg baik dan tulus , tapi kemudian setelah disadari , statement tsb ternyata salah , walaupun intensinya baik dan tulus.

Jadi , jika sesuatu itu benar , hanya karena intensinya benar , maka semua pernyataan yg salah menjadi benar karena intensinya benar.

Ada banyak orang yg sungguh2 tulus yang sungguh2 salah.

Many sincere people have been sincerely wrong.

Jadi , pandangan intensionalis ini tidak tepat , karena intensi menjadi ukuran untuk menentukan kebenaran.

4. Truth is not ” which is comprehensive ” ( Comprehensive )

Ada juga yang mengatakan bahwa kebenaran dapat ditemukan dalam sesuatu yang sangat comprehensive ( rumit ) . Dengan kata lain : segala sesuatu yg paling banyak data , yang paling komplex , yang paling susah , itu adalah kebenaran .

Sebaliknya segala sesuatu yg sederhana , yg tidak rumit , yg simple , yg tidak encyclopedic , itu bukanlah kebenaran.

Problem :

-Pandanngan ini bertentangan dengan dirinya sendiri , karena definisi dari pandangan ini sendiri tidak comprehensive.

-Comprehensiveness is only a test for truth , not the definition of truth.

Memang benar bahwa suatu scientific theory yang sangat comprehensive akan memperjelas dan menerangkan semua data data yang berhubungan satu dengan lainnya.

Namun demikian , hal tsb hanyalah merupakan suatu cara untuk meng kofirmasikan apakah sesuatu itu benar , tapi bukan untuk menentukan definisi kebenaran.

Jadi , kalau sesuatu itu rumit , maka hal itu benar dan kalau sesuatu itu sederhana , maka hal itu salah / tidak benar.

Tanggapan : kalau begitu , suatu keterangan yang singkat dan sederhana mengenai kebenaran , menjadi sesuatu yg salah.

Dan suatu keterangan yg panjang lebar ( comprehensive ) mengenai sesuatu kesalahan , menjadi suatu yg benar.

Kesimpulan : oleh karena itu pandangan ini adalah pandangan yg salah.

5. Truth is not ‘ that which existentially relevant ‘ ( existentialis )

Soren Kierkegaard & para ahli filsafat existensial lainnya menekankan bahwa :

Kebenaran adalah sesuatu yang relevan dengan existensi kita ( keberadaan kita ).

Kierkegaard mengatakan bahwa : ‘ kebenaran itu subjective ‘.

Dan yg lainnya juga mengatakan bahwa kebenaran itu seharusnya dapat diaplikasikan (dipraktekkan ) dan kebenaran itu dapat ditemukan dalam tiap pribadi , dan kebenaran bukanlah suatu proposisi .

TANGGAPAN :

-Statement itu sendiri ‘ Truth is not found in propositions ‘ adalah suatu statement kebenaran yg propositional . Dengan kata lain argument nya menghancurkan diri sendiri ( self defeating ).

-Kebanyakan para existensialis tidak dapat membedakan antara sifat kebenaran dan aplikasi dari kebenaran itu.

Tentu saja semua kebenaran ( yang memang dapat dipraktekkan ) , haruslah dipraktekkan.

Memang sudah seharusnya semua kebenaran objective diaplikasikan secara subjective sedapat mungkin . Tetapi ini bukan berarti kebenaran itu bersifat subjective.

-Kebenaran existensi ini tidak dapat mencakup kebenaran2 lainnya. Kebenaran ini hanya mencakup kebenaran personal existent , dan tidak mencakup kebenaran fisika, matematika, histories dan yg bersifat teori.

-Kalau kebenaran itu hanya bersifat existensial relevance, maka semua yang kita bahas ini menjadi tidak benar , nonsense , dan tidak masuk akal.

Jadi , pandangan ini gagal dalam memberikan definisi kebenaran secara umum.

-Yang namanya kebenaran itu pasti relevan , tapi bukan berarti semua yang relevan itu pasti benar.

What is true , will be relevant , but not everything relevant is true.

Contoh :

A computer is relevant to an atheist writer.

A gun is relevant to a murderer ( killer ).

But thie does not make them true.

6. Truth is not ‘ that which feels good ‘ ( Feeling )

Ini juga merupakan salah satu pandangan yg sangat populer. Pandangan ini mengatakan:

Apapun yg membuat kita feel good and satisfying , itu adalah kebenaran dan apapun yg membuat kita feel bad , itu adalah kesalahan ( bukan kebenaran ).

Kebenaran itu ditemukan dalam perasaan subjective kita.

New Age Movement memegang teguh versi kebenaran ini. Namun pandangan ini adalah pandangan yg salah, karena beberapa hal berikut ini:

-Bad news that makes us feel bad can be true, but if what feels good is always true , then this would not be possible.

-Bad report card ( raport ) do not make a student feel good , even though they may be true.

-Feeling itu relative bagi tiap-tiap orang . apa yang dirasakan enak oleh seseorang , dapat dirasakan tidak enak oleh yang lain . kalau begitu kebenaran itu sifatnya relative dan tidak absolute.

Akan tetapi , yang namanya kebenaran itu tidak bisa relative , karena barangsiapa mengkleim bahwa kebenaran itu relative, telah mengatakannya secara mutlak ( absolute )

-Walaupun kebenaran itu juga dapat membuat kita feel good – at least dlm jangka panjang – tapi ini bukan berarti bahwa apa yg dirasakan enak itu pasti benar.

-Penganut paham ini rupanya bingung meletakkan kuda dan keretanya (Yang mana yg di depan , yang mana yg dibelakang.)

The nature of truth is not the same as the result of truth.

What truth is , is not the same as what truth does.

The definition of truth is not the same as the consequences of truth

Sekarang kita bahas pengertian positive nya

What truth is : Correspondence.

Kebenaran adalah : Persesuaian.

Kebenaran dapat ditemukan dalam persesuaian ( correnpondence ).

Dengan kata lain: Kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan apa adanya (apapun itu).

Truth is ‘ telling it like it is ‘

Truth is ‘ what corresponds to its referent ‘

Truth is ‘ what corresponds to reality ‘

Tentu saja hal ini juga mencakup kebenaran abstract realities dan juga kebenaran actual , seperti misalnya kebenaran matematika dan kebenaran suatu idea ( buah pikiran ).

Yang jelas , kebenaran adalah sesuatu yang secara akurat meng ekspresikan semua keadaan tsb, apapun itu.

Sebaliknya , error ( kesalahan ) itu adalah sesuatu yg tidak sesuai dengan apa adanya.

Kesalahan adalah : sesuatu yg tidak mengatakan / menyatakan sebagaimana adanya.

Error / falsehood is that which does not correspond to its referent.

Error / falsehood is that which does not correspond to reality.

It does not tell it like it is , but like it is not.

It is a misrepresentation of the way things are.

Ada beberapa kendala yg harus kita hadapi dalam membahas masalah kebenaran absolute.

Kendala kendala tsb adalah : RELATIVISM dan AGNOSTICISM.

RELATIVISM menolak adanya kebenaran absolute.

AGNOSTICISM mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat kita ketahui ( truth is unknowable ).

RELATIVISM:

KEBENARAN ABSOLUT SANGAT BERTENTANGAN DENGAN KEBENARAN RELATIVE.

RELATIVISM adalah suatu isme yg mengatakan :

-Sesuatu itu benar , hanya bagi orang orang tertentu saja dan bukan bagi semua orang.

-Sesuatu itu benar, hanya pada saat saat tertentu saja dan bukan setiap saat / setiap waktu.

-Sesuatu itu benar, hanya pada tempat tempat tertentu saja dan bukan di segala tempat.

KEBENARAN MUTLAK ( ABSOLUT ) berarti :

– Sesuatu yang benar itu , adalah benar bagi semua orang, pada setiap saat, dan di segala tempat. ( di mana saja , kapan saja , siapa saja ).

RELATIVISM ini memang sangat populer, namun demikian , kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas.

Mari kita bahas tentang alasan alasan mengapa banyak orang percaya bahwa kebenaran itu relative.

ALASAN 1:

Ada hal-hal yg tampaknya benar, hanya pada waktu / zaman dahulu, tapi tidak lagi pada zaman sekarang.

CONTOH :

Zaman dahulu banyak orang percaya bahwa bumi ini berbentuk kotak. Sekarang, tak seorangpun percaya akan hal itu.

Itulah sebabnya kebenaran itu berubah ubah dari waktu ke waktu.

TANGGAPAN :

Yang jelas, bumi ini tidak pernah berubah bentuk dari kotak menjadi bulat.

Yang berubah adalah kepercayaan kita dan bukan buminya.

Kebenaran itu tidak pernah berubah.

Kita lah yang berubah dari kepercayaan yg salah kepada kepercayaan yg benar.

ALASAN 2:

Ada juga hal hal yang nampaknya benar bagi seseorang, tapi tidak benar bagi orang lain.

CONTOH :

‘ I FEEL WARM ‘ Pernyataan ini benar hanya untuk saya, tapi tidak benar bagi anda.

Anda mungkin merasa dingin.

Bukankah ini membuktikan bahwa kebenaran itu relative ?

TANGGAPAN :

Not at all !

Suatu statement yg mengatakan ‘ Saya ( Rudy ) merasa panas ‘ dan pernyataan itu dinyatakan pada tanggal 1 Agustus 2005.

Statement tsb adalah benar bagi semua orang dalam seluruh alam semesta ini.

Karena , adalah tidak benar bagi semua orang bahwa Rudy tidak merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005.

Bukan saja benar bagi semua orang , tapi juga benar di mana saja dan kapan saja bahwa Rudy merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005. Hal itu benar di Moscow , di Italy , di Peking , di Washington , di Jepang , bahkan di luar angkasa bahwa Rudi merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005.

Hal itu benar bagi semua orang , disegala tempat , dan disetiap waktu.

Naaah , yang tadinya kelihatannya seperti kebenaran relative , ternyata terbukti bahwa hal itu adalah kebenaran absolute.

CONTOH LAINYA :

Ada contoh lainnya yg kelihatannya mendukung kebenaran relative.

Bila seorang guru berdiri di depan , menghadap kelasnya dan mengatakan bahwa : Pintu dari ruangan ini berada di sebelah kanan saya. Sedangkan pintu tsb berada di sebelah kiri para murid yg ada dlm kelas tsb.

Kebenaran ini nampaknya relative bagi si Pak guru , karena hal itu benar bagi si Pak guru , tapi salah bagi para murid.

TANGGAPAN :

Bahwasannya pintu tsb ada di sebelah kanan Pak guru adalah kebenaran yg absolute.

Karena , adalah salah , bagi siapa saja , kapan saja , dimana saja , kalau pintu tsb ada di sebelah kiri Pak guru.

Dan selalu benar bagi siapa saja , kapan saja , dan dimana saja bahwa pintu tsb ada di sebelah kanan Pak guru.

Demikian pula dengan para murid , bahwa pintu tsb ada di sebelah kiri para murid, adalah suatu kebenaran absolut dan benar bagi siapa saja , kapan saja dan dimana saja.

CONTOH :

Memang sudah sangat jelas bahwa di Equator itu panas , tapi dingin di Kutub Utara.

Kelihatannya contoh ini merupakan kebenaran yg relative, karena kebenarannya hanya terdapat di suatu tempat dan tidak di tempat lain.

TANGGAPAN :

Apa yg benar di suatu tempat , akan benar juga di mana mana. Contoh tadi mengatakan bahwa di Kutub Utara itu dingin , hal ini juga benar di Equator dan di mana mana bahwa di Kutub Utara itu dingin.

Demikian juga dengan ‘di Equator itu panas ‘ adalah benar di Kutub Utara dan di mana mana.

Jangan lupa bahwa , kebenaran adalah sesuatu yg sesuai dengan apa adanya ( faktanya ), dan dalam hal ini faktanya menyatakan bahwa di Equator itu panas dan di Kutub Utara itu dingin. Kebenaran ini adalah benar dimana saja , karena dimanapun juga statement tsb di atas, tidak pernah tidak sesuai dengan faktanya. ( correspondence ).

KESIMPULAN :

All truth is absolute.

Semua yang namanya kebenaran itu mutlak. Tidak ada yang namanya kebenaran yg relative.

Karena kalau sesuatu itu benar , maka hal itu benar di mana saja , kapan saja dan bagi siapa saja.

Lagi pula 5 + 5 = 10 , bukan saja benar bagi para ahli Matematika saja , tapi juga bagi semua orang.

5 + 5 = 10 , bukan saja benar hanya dalam kelas Matematika , tapi juga benar di mana mana , baik di rumah saya , di rumah anda , di planet Pluto , di tempat kerja , maupun di gereja , atau di mesjid dan di Kelenteng.

Bagaikan apple busuk , demikian pula Relativism yg kelihatannya sangat indah luarnya , tapi dalamnya busuk.

Oleh karena itu , mari kita lihat beberapa problem dalam Relativism.

PROBLEMS WITH RELATIVISM

1. Relativism is self defeating.

Argument dari relativism menghancurkan dirinya sendiri.

Para relativist percaya bahwa relativism itu benar bagi semua orang, dan bukan bagi mereka saja.

Kalau begitu relativist melanggar teorinya sendiri , karena mereka katakan bhw relativism itu hanya benar bagi orang tertentu saja dan tidak benar bagi yang lain.

Akan tetapi , oleh karena para relativist percaya bahwa relativism itu adalah benar untuk semua orang , maka , dia bukan lagi relativist , tapi absolutist.

2. Relativism menciptakan dunia yg penuh dengan kontradiksi ( sesuatu yg bertentangan ).

Kalau memang relativism itu benar , maka duina ini akan dipenuhi dengan hal hal yg kontradiksi.

Bila sesuatu itu benar bagi saya dan salah buat anda , dan menurut relativist , keduannya adalah benar dan harus diterima , maka terjadilah suatu keadaan yg bertentangan .

Contoh :

Bila saya katakan 2 + 2 = 4, dan anda katakan 2 + 2 = 5.

Hanya satu yang benar, dan bukan keduanya benar. Karena keduanya bertentangan.

Bila saya katakan ‘ ada segelas susu di dalam kulkas ‘ dan

Anda juga mengatakan ‘ tidak ada segelas susu di dalam kulkas ‘ (dalam waktu dan pengaertian yg sama ) , dan menurut relativist , keduanya itu benar ,dan harus diterima , maka

adanya segelas susu dan tidak adanya segelas susu dalam kulkas bisa terjadi dalam waktu yg bersamaan.

Namun hal itu adalah sesuatu yg tidak mungkin terjadi.

Jadi jikalau kebenaran itu relative, maka sesuatu yg impossible itu menjadi actual.

Dalam dunia keagamaan dimana seorang Theis mengatakan ‘ Allah itu ada ‘ dan seorang Atheis mengatakan ‘ Allah itu tidak ada ‘.

Menurut relativist , keduanya adalah benar dan harus diterima.

Namun demikian kedua statement tsb tidak bisa sama sama benar , karena jika yg satu benar , maka yg lain pasti salah , tapi tidak mungkin keduanya benar.

3. Relativism berarti , tak seorangpun akan pernah bersalah dalam hal apapun.

Kalau kebenaran itu relative , maka tak seorangpun bersalah , walaupun mereka sudah jelas bersalah.

Selama sesuatu itu benar menurut saya , maka saya akan selalu benar , walaupun saya bersalah.

Akibatnya adalah : Saya tidak akan pernah dapat belajar tentang segala sesuatu.

Karena , yg namanya belajar , pada hakekatnya , adalah : perpindahan dari suatu yg salah kepada sesuatu yg benar, yaitu : dari sesuatu yang absolute salah kepada sesuatu yang absolute benar.

BEBERAPA KEBERATAN TERHADAP KEBENARAN ABSOLUT DIBAHAS.

Ada beberapa keberatan yg di lontarkan oleh para relativist , kita hanya membahas yg penting-penting saja.

KEBERATAN 1 :

Ada banyak hal hal yg relative , seperti relative sizes such as shorter and taller.

Hal-hal seperti ini tidak mungkin absolute , karena mereka berubah-ubah tergantung kepada apa dan siapa mereka dibandingkan. Contohnya : sebagian orang termasuk baik, bila dibandingkan dengan Adolf Hitler , dan sebagian orang termasuk jahat, bila dibandingkan dengan Mother Teresa.

TANGGAPAN :

Perbandingan relative ini tidak dapat menyanggah kebenaran absolute.

Statement yg mengatakan bahwa ‘ John itu pendek bila dibandingkan dengan pemain basket NBA ‘ dan ‘ John itu tinggi bila dibandingkan dengan seorang jockey ‘ adalah kebenaran absolute dan benar bagi siapa saja dan kapan saja. John is in between size , tergantung kepada siapa Ia dibandingkan. Namun demikian, John yang tingginya 5 feet ,10 inches adalah pendek dibanding dng Shaquille O’Neal dan tinggi bila dibanding dng jockey Willie Shoemaker adalah suatu kebenaran yg absolut. Sama halnya dengan hal hal yg lain seperti warmer or colder and better or worse.

KEBERATAN 2 :

Kalau kebenaran itu tidak pernah berubah , maka tidak akan pernah ada kebenaran baru. Dan ini berarti bhw kita tidak akan pernah mengalami kemajuan ( progress ). Tapi sebenarnya, pada kenyataanya, kita telah banyak menemukan kebenaran baru yg terbukti dari banyaknya penemuan penemuan scientific ( scientific discovery ).

TANGGAPAN :

Istilah ‘ kebenaran baru ‘ ini sebenarnya dapat diartikan ‘ baru bagi kita ‘ seperti pada penemuan penemuan scientific tsb. Dan dalam hal ini, kita menemukan ‘kebenaran yg lama ‘ . Lagi pula hukum gravitasi sudah lama ada sebelum ditemukan oleh Newton . Yang namanya kebenaran itu, sudah lama ada , hanya kita yg baru menemukannya.

KEBERATAN 3 :

Kebenaran itu berubah-ubah bersama sama dengan pengenalan dan pengetahuan kita. Oleh karena itu, kebenaran itu tidak absolut. Apa yang benar hari ini bisa jadi salah pada hari esok. The progress of science adalah bukti bahwa kebenaran itu terus menerus beruba-ubah.

TANGGAPAN :

Keberatan ini gagal untuk melihat bahwa bukan kebenaran lah yang berubah , melainkan pengertian kita tentang kebenaran itulah yg berubah. Bilamana terjadi kemajuan-kemajuan dalam science, hal ini bukan berarti bahwa kita telah bergerak maju dari kebenaran lama kepada kebenaran yg baru, melainkan kita telah bergerak dari yg salah kepada yg benar.

Pada waktu Nicolaus Copernicus mengatakan bhw bumilah yang berputar mengeliling matahari ( heliocentric ) dan bukan sebaliknya ( geocentris ), kebenaran nya tidak berubah dari geocentric kepada heliocentric. Yang berubah adalah pengertian scientific kita tentang bumi dan matahari.

KEBERATAN 4 :

Kebenaran absolute itu terlalu sempit.

TANGGAPAN :

Keberatan ini merupakan keberatan yg sangat umum dan populer tapi tanpa dasar yg kuat.

Tentu saja yang namanya kebenaran itu selalu SEMPIT.

Karena hanya ada satu jawaban bagi 4 + 5. Dan jawabannya bukanlah 1, bukanlah 2, bukan 3, dan juga bukan 4, 5, 6, 7, 8 dan semua angka dari 10 sampai kekal.

Jawabannya hanyalah 9. Memang sempit , tapi , benar.

Non-Kristen biasanya menuduh bahwa orang Kristen itu pikirannya sempit karena orang Kristen mengkleim bahwa kekristenan itu adalah satu-satunya kebenaran sedangkan yg non-Kristen adalah tidak benar.

Namun demikian , non-Kristen juga melakukan hal yg sama, yg juga mengkleim bahwa pandangan merkalah yg benar dan semua kepercayaan yg bertentangan dengan pandangan mereka , adalah salah.

Pandangan mereka juga sama sempitnya.

Yang jelas , kalau K ( Kekristenan ) itu benar , maka semua yang non-K pasti salah , demikian juga , jika B ( Buddha ) itu benar , maka semua yg non-B pasti salah , jika I ( Islam ) itu benar , maka semua yg non-I pasti salah.

Semua pandangan tsb sama sempitnya , tapi memang begitulah sifat kebenaran.

Bila sesorang mengkleim kebenaran, maka dengan demikian ia juga telah menyatakan bhw apapun yg bertentangan dgn dia , pasti salah..

Kekristenan tidak lebih sempit dari kepercayaan2 lainnya entah itu Atheis , Agnostic , Skeptic atau Pantheis.

KEBERATAN 5 :

Kepercayaan terhadap kebenaran absolute adalah sesuatu yg Dogmatis , Congkak , Fanatik dan Arrogant.

TANGGAPAN :

Mereka yg mengatakan demikian, biasanya salah mengerti dalam 2 hal.

Yang pertama :

Yang namanya kebenaran itu , pasti , selalu absolute dan tidak dapat disangkal. Karena seperti yg sudah kita lihat , bila sesuatu itu benar, maka hal itu pasti benar bagi siapa saja , kapan saja , dan di mana saja.

Nah dalam pengertian yg seperti inilah, baru dapat dikatakan bhw mereka yg mengkleim kebenaran absolute itu dogmatis.

Yang kedua :

Ada sesuatu yg penting yg terabaikan dalam tuduhan dogmatis ini.

Ada suatu perbedaan yg besar antara sesuatu yg dogmatis dan sikap dari para absolutis.

Memang tak dapat diragukan lagi, dan sangat disayangkan bhw sikap dari pada para absolutis sering kali congkak / arrogant dalam menyampaikan kebenaran.

Namun demikian bukan berarti kebenaran itu relative.

KEBERATAN 6:

Bagaimana kita bisa tahu secara absolute bhw sesuatu itu benar ?

Banyak orang ragu terhadap kebenaran absolute, karena kita semua tidak memiliki pengetahuan yg absolute tentang kebenaran.

Bahkan banyak dari kalangan absolutis sendiri mengakui bhw ada hal hal yg dapat kita ketahui hanya sampai pada tingkat tingkat kemungkinan. Oleh karena itu, bagaimana dapat kita pastikan bhw semua kebenaran itu absolute?

TANGGAPAN :

Ada 2 hal yg salah dari keberatan ini.

Yang pertama :

Ada hal-hal yg dapat kita pastikan secara absolute.

Contoh :

-Saya tahu dengan pasti bahwa saya ada ( Exist ). Bahkan saya tahu dengan pasti bahwa keberadaan saya ini tidak dapat disangkal. Karena untuk menyangkal keberadaan saya , saya harus ada terlebih dahulu. Dengan kata lain saya harus ada untuk mengatakan bahwa ‘ saya tidak ada ‘.

-Saya juga dapat memastikan secara absolute bhw saya tidak bisa ada dan tidak ada , dalam waktu yang bersamaan.

-Dan saya tahu pasti bhw tidak ada yang namanya lingkaran kotak.

-Dan juga saya tahu pasti bhw 3 + 2 = 5 itu , absolute.

Yang kedua :

Tentu saja ada banyak hal hal lainnya yg tidak saya ketahui dengan pasti ( secara absolut).

Bahkan dalam hal inipun para relativis sering salah mengerti. Mereka menolak kebenaran absolute , hanya di karena kan kurangnya bukti-bukti yg absolut untuk menyatakan bhw sesuatu itu benar.

Mereka gagal untuk mengakui bhw kebenaran itu selalu absolute, apapun yg menjadi dasar kita untuk mempercayainya.

Contoh :

Jika benar bhw Sydney , Australia ada di lautan Pacific ,maka hal itu merupakan suatu kebenaran yg absolut , tidak perduli apakah saya memiliki bukti-buktinya maupun tidak. Hal tsb benar bagi orang yg punya bukti- bukti dan juga benar bagi seorang bayi yg belum tahu apa apa mengenai ilmu bumi. Sampai di manapun tingkat pengetahuan kita , bahwa , Sydney , Australia ada di lautan Pacific , itu adalah kebenaran absolute.

Kebenaran absolute adalah selalu benar , sampai dimanapun pengetahuan kita .

Truth does not change , just because we learn something more about it.

 

ESDI

Latar belakang

Mengingat semakin membudayanya “Relativisme” yg merupakan suatu isme / kepercayaan (yg semakin nge-trend) yang mengatakan bahwa: Kebenaran yang Objective itu sebenarnya tidak ada (There is no objective truth) dan semua agama itu sama benarnya, maka ada baiknya jika kita bisa sedikit membahas masalah “Kebenaran”.

Oleh karena kebenaran itu selalu bersifat absolute & objective, maka kebenaran itu merupakan sesuatu yg penting dan mendasar.

Yang namanya “Kebenaran Absolut & Objective” ini, bukan saja ada, tapi juga dapat diketahui dan , kita tidak dapat hidup dan berfungsi secara produktive tanpa mengakui dan mengetahui adanya kebenaran yang absolute.

Di dalam Kekristenan,”kebenaran” merupakan sesuatu yang penting dan mendasar karena agama Kristen mengkleim memiliki kebenaran objective tentang Allah dan tentang jalan menuju Allah melalui Yesus Kristus.

Seandainya “Kebenaran” itu tidak objective, not real, dan un-knowable( tak dpt diketahui), maka Kekristenan itu bukan saja sesat tapi juga dusta, curang dan palsu.

Nah masalahnya, setiap agama dan kepercayaan mengkleim agamanya lah yang benar,and that’s ok !

Tapi,….. apakah itu berarti bahwa semua agama itu benar ?

Apakah benar, bahwa semua agama pada dasarnya mengajar ajaran yang sama, hanya cara penyampaiannya saja yang berbeda ?

Apakah benar bahwa semua agama itu tujuannya satu tapi jalannya masing-masing lain-lain, seperti beberapa orang yang mendaki gunung melalui jalurnya masing-masing, tapi tiba pada puncak yang sama ?

Apakah Kristen sama benarnya dengan Islam ?

Apakah Islam sama benarnya dengan Buddha ?

Apakah Buddha sama benarnya dengan Kristen ?

Apakah Hindu sama benarnya dengan Islam ?

Apakah semua agama-agama ini sama benarnya ?

THE NATURE OF TRUTH & RELATIVISM

Memang ada banyak pandangan/pengertian mengenai sifat/definisi dari kebenaran. Hal ini merupakan akibat dari kekacauan/kebingungan yg terjadi antara sifat/definisi dari kebenaran dan test/defense dari kebenaran.

Atau hal ini juga dapat terjadi karena kebanyakan orang tidak dapat membedakan antara result dan rule.

Kita dapat mengerti Kebenaran secara Positive dan Negative, yaitu Kebenaran Adalah…. dan Kebenaran Bukanlah…..

Mari kita mulai dengan pengertian negative nya:

Kebenaran Bukanlah……

1. Truth is not ” that which works ” (Pragmatis)

Suatu theory tentang kebenaran yg popular adalah pandangan pragmatis dari William James. Menurut William : kita bisa tahu bahwa sesuatu pernyataan/statement itu benar apabila it brings the right results. Dengan kata lain: sesuatu itu benar, jikalau sesuatu itu ber-hasil.

Problem:

Pandangan ini tidak dapat membedakan Sebab dari Akibat.

Kalau sesuatu itu benar, maka hal itu akan berhasil,…walaupaun dalam jangka panjang.

Tapi hanya karena sesuatu itu ber-hasil, bukan berarti bahwa hal itu benar.

Contoh:

Sering kali dengan berbohong, sesorang berhasil mendapatkan apa yg diinginkannya, tetapi, bukan berarti bohong/dusta itu benar.

Lies often work, but that does nott make them true.

Jadi:

Hasil / akibat / result, tidak dapat dijadikan definisi dari kebenaran.

Lagi pula, pandangan Pragmatis ini hanya berlaku untuk kebenaran praktis, tapi tidak mencakup kebenaran matematis (2+2=4) dan kebenaran factual (tree has green leaves), for these are not true because they work, but because they correspond to the way things are, whether in the abstract or in concrete.

2. Truth is not ” that which coheres ” (Coherentis)

Kebenaran bukanlah ” sesuatu yg berkaitan / berhubungan ”

Ada pula yg mengatakan bhw kebenaran itu adalah sesuatu yg berkaitan / sesuatu yang internally consistent / sesuatu yg memiliki self consistency.

Ini juga merupakan definisi kebenaran yg kurang tepat karena alasan alasan berikut :

Pernyataan pernyataan yg hampa ( empty statements ) dapat berkaitan satu sama lain , walaupun pernyataan pernyataan tsb kosong ( tak ada isinya ).

Contoh :

” All Husbands Are Married Men ”

That statement is internally consistent , but it is empty. It does not tell us about reality.

The statement would be so even if there were no husbands.

It really means , ” If there is a husband, then he must be married ” . But it does not inform us that there is a husband anywhere in the universe.

Contoh lain:

Saksi palsu atau suatu cerita yang dibuat buat .

Berkonspirasi untuk berbohong di pengadilan.

Semuanya itu harus consistent tapi bukan berarti itu benar.

Yang jelas , Coherence is only a negative test of truth.

Statements are wrong if they inconsistent , but not necessarily true because they are consistent

3. Truth is not ” that which was intended ” ( Intensionalis )

Ada juga yg mengatakan bhw kebenaran tergantung pada intensi kita ( maksud hati ).

Jadi : Sebuah pernyataan itu benar , kalau si pembuat pernyataan itu bermaksud benar , dan sebuah pernyataan itu salah , kalau si pembuat pernyataan itu tidak bermaksud benar.

Problem :

Ada banyak statement yg dinyatakan yg tidak selalu sesuai dengan intensi si pembuat statement tsb.

Slip tongue ( salah ngomong ) sering terjadi.

Tapi kalau sebuah statement itu benar , hanya karena intensinya benar , maka , walaupun statement tsb salah , kesalahan tsb menjadi benar , demikian pula sebaliknya.

Ada banyak orang yang tulus dan sincere , yg membuat statement dengan tujuan yg baik dan tulus , tapi kemudian setelah disadari , statement tsb ternyata salah , walaupun intensinya baik dan tulus.

Jadi , jika sesuatu itu benar , hanya karena intensinya benar , maka semua pernyataan yg salah menjadi benar karena intensinya benar.

Ada banyak orang yg sungguh2 tulus yang sungguh2 salah.

Many sincere people have been sincerely wrong.

Jadi , pandangan intensionalis ini tidak tepat , karena intensi menjadi ukuran untuk menentukan kebenaran.

4. Truth is not ” which is comprehensive ” ( Comprehensive )

Ada juga yang mengatakan bahwa kebenaran dapat ditemukan dalam sesuatu yang sangat comprehensive ( rumit ) . Dengan kata lain : segala sesuatu yg paling banyak data , yang paling komplex , yang paling susah , itu adalah kebenaran .

Sebaliknya segala sesuatu yg sederhana , yg tidak rumit , yg simple , yg tidak encyclopedic , itu bukanlah kebenaran.

Problem :

-Pandanngan ini bertentangan dengan dirinya sendiri , karena definisi dari pandangan ini sendiri tidak comprehensive.

-Comprehensiveness is only a test for truth , not the definition of truth.

Memang benar bahwa suatu scientific theory yang sangat comprehensive akan memperjelas dan menerangkan semua data data yang berhubungan satu dengan lainnya.

Namun demikian , hal tsb hanyalah merupakan suatu cara untuk meng kofirmasikan apakah sesuatu itu benar , tapi bukan untuk menentukan definisi kebenaran.

Jadi , kalau sesuatu itu rumit , maka hal itu benar dan kalau sesuatu itu sederhana , maka hal itu salah / tidak benar.

Tanggapan : kalau begitu , suatu keterangan yang singkat dan sederhana mengenai kebenaran , menjadi sesuatu yg salah.

Dan suatu keterangan yg panjang lebar ( comprehensive ) mengenai sesuatu kesalahan , menjadi suatu yg benar.

Kesimpulan : oleh karena itu pandangan ini adalah pandangan yg salah.

5. Truth is not ‘ that which existentially relevant ‘ ( existentialis )

Soren Kierkegaard & para ahli filsafat existensial lainnya menekankan bahwa :

Kebenaran adalah sesuatu yang relevan dengan existensi kita ( keberadaan kita ).

Kierkegaard mengatakan bahwa : ‘ kebenaran itu subjective ‘.

Dan yg lainnya juga mengatakan bahwa kebenaran itu seharusnya dapat diaplikasikan (dipraktekkan ) dan kebenaran itu dapat ditemukan dalam tiap pribadi , dan kebenaran bukanlah suatu proposisi .

TANGGAPAN :

-Statement itu sendiri ‘ Truth is not found in propositions ‘ adalah suatu statement kebenaran yg propositional . Dengan kata lain argument nya menghancurkan diri sendiri ( self defeating ).

-Kebanyakan para existensialis tidak dapat membedakan antara sifat kebenaran dan aplikasi dari kebenaran itu.

Tentu saja semua kebenaran ( yang memang dapat dipraktekkan ) , haruslah dipraktekkan.

Memang sudah seharusnya semua kebenaran objective diaplikasikan secara subjective sedapat mungkin . Tetapi ini bukan berarti kebenaran itu bersifat subjective.

-Kebenaran existensi ini tidak dapat mencakup kebenaran2 lainnya. Kebenaran ini hanya mencakup kebenaran personal existent , dan tidak mencakup kebenaran fisika, matematika, histories dan yg bersifat teori.

-Kalau kebenaran itu hanya bersifat existensial relevance, maka semua yang kita bahas ini menjadi tidak benar , nonsense , dan tidak masuk akal.

Jadi , pandangan ini gagal dalam memberikan definisi kebenaran secara umum.

-Yang namanya kebenaran itu pasti relevan , tapi bukan berarti semua yang relevan itu pasti benar.

What is true , will be relevant , but not everything relevant is true.

Contoh :

A computer is relevant to an atheist writer.

A gun is relevant to a murderer ( killer ).

But thie does not make them true.

6. Truth is not ‘ that which feels good ‘ ( Feeling )

Ini juga merupakan salah satu pandangan yg sangat populer. Pandangan ini mengatakan:

Apapun yg membuat kita feel good and satisfying , itu adalah kebenaran dan apapun yg membuat kita feel bad , itu adalah kesalahan ( bukan kebenaran ).

Kebenaran itu ditemukan dalam perasaan subjective kita.

New Age Movement memegang teguh versi kebenaran ini. Namun pandangan ini adalah pandangan yg salah, karena beberapa hal berikut ini:

-Bad news that makes us feel bad can be true, but if what feels good is always true , then this would not be possible.

-Bad report card ( raport ) do not make a student feel good , even though they may be true.

-Feeling itu relative bagi tiap-tiap orang . apa yang dirasakan enak oleh seseorang , dapat dirasakan tidak enak oleh yang lain . kalau begitu kebenaran itu sifatnya relative dan tidak absolute.

Akan tetapi , yang namanya kebenaran itu tidak bisa relative , karena barangsiapa mengkleim bahwa kebenaran itu relative, telah mengatakannya secara mutlak ( absolute )

-Walaupun kebenaran itu juga dapat membuat kita feel good – at least dlm jangka panjang – tapi ini bukan berarti bahwa apa yg dirasakan enak itu pasti benar.

-Penganut paham ini rupanya bingung meletakkan kuda dan keretanya (Yang mana yg di depan , yang mana yg dibelakang.)

The nature of truth is not the same as the result of truth.

What truth is , is not the same as what truth does.

The definition of truth is not the same as the consequences of truth

Sekarang kita bahas pengertian positive nya

What truth is : Correspondence.

Kebenaran adalah : Persesuaian.

Kebenaran dapat ditemukan dalam persesuaian ( correnpondence ).

Dengan kata lain: Kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan apa adanya (apapun itu).

Truth is ‘ telling it like it is ‘

Truth is ‘ what corresponds to its referent ‘

Truth is ‘ what corresponds to reality ‘

Tentu saja hal ini juga mencakup kebenaran abstract realities dan juga kebenaran actual , seperti misalnya kebenaran matematika dan kebenaran suatu idea ( buah pikiran ).

Yang jelas , kebenaran adalah sesuatu yang secara akurat meng ekspresikan semua keadaan tsb, apapun itu.

Sebaliknya , error ( kesalahan ) itu adalah sesuatu yg tidak sesuai dengan apa adanya.

Kesalahan adalah : sesuatu yg tidak mengatakan / menyatakan sebagaimana adanya.

Error / falsehood is that which does not correspond to its referent.

Error / falsehood is that which does not correspond to reality.

It does not tell it like it is , but like it is not.

It is a misrepresentation of the way things are.

Ada beberapa kendala yg harus kita hadapi dalam membahas masalah kebenaran absolute.

Kendala kendala tsb adalah : RELATIVISM dan AGNOSTICISM.

RELATIVISM menolak adanya kebenaran absolute.

AGNOSTICISM mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat kita ketahui ( truth is unknowable ).

RELATIVISM:

KEBENARAN ABSOLUT SANGAT BERTENTANGAN DENGAN KEBENARAN RELATIVE.

RELATIVISM adalah suatu isme yg mengatakan :

-Sesuatu itu benar , hanya bagi orang orang tertentu saja dan bukan bagi semua orang.

-Sesuatu itu benar, hanya pada saat saat tertentu saja dan bukan setiap saat / setiap waktu.

-Sesuatu itu benar, hanya pada tempat tempat tertentu saja dan bukan di segala tempat.

KEBENARAN MUTLAK ( ABSOLUT ) berarti :

– Sesuatu yang benar itu , adalah benar bagi semua orang, pada setiap saat, dan di segala tempat. ( di mana saja , kapan saja , siapa saja ).

RELATIVISM ini memang sangat populer, namun demikian , kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas.

Mari kita bahas tentang alasan alasan mengapa banyak orang percaya bahwa kebenaran itu relative.

ALASAN 1:

Ada hal-hal yg tampaknya benar, hanya pada waktu / zaman dahulu, tapi tidak lagi pada zaman sekarang.

CONTOH :

Zaman dahulu banyak orang percaya bahwa bumi ini berbentuk kotak. Sekarang, tak seorangpun percaya akan hal itu.

Itulah sebabnya kebenaran itu berubah ubah dari waktu ke waktu.

TANGGAPAN :

Yang jelas, bumi ini tidak pernah berubah bentuk dari kotak menjadi bulat.

Yang berubah adalah kepercayaan kita dan bukan buminya.

Kebenaran itu tidak pernah berubah.

Kita lah yang berubah dari kepercayaan yg salah kepada kepercayaan yg benar.

ALASAN 2:

Ada juga hal hal yang nampaknya benar bagi seseorang, tapi tidak benar bagi orang lain.

CONTOH :

‘ I FEEL WARM ‘ Pernyataan ini benar hanya untuk saya, tapi tidak benar bagi anda.

Anda mungkin merasa dingin.

Bukankah ini membuktikan bahwa kebenaran itu relative ?

TANGGAPAN :

Not at all !

Suatu statement yg mengatakan ‘ Saya ( Rudy ) merasa panas ‘ dan pernyataan itu dinyatakan pada tanggal 1 Agustus 2005.

Statement tsb adalah benar bagi semua orang dalam seluruh alam semesta ini.

Karena , adalah tidak benar bagi semua orang bahwa Rudy tidak merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005.

Bukan saja benar bagi semua orang , tapi juga benar di mana saja dan kapan saja bahwa Rudy merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005. Hal itu benar di Moscow , di Italy , di Peking , di Washington , di Jepang , bahkan di luar angkasa bahwa Rudi merasa panas pada tanggal 1 Agustus 2005.

Hal itu benar bagi semua orang , disegala tempat , dan disetiap waktu.

Naaah , yang tadinya kelihatannya seperti kebenaran relative , ternyata terbukti bahwa hal itu adalah kebenaran absolute.

CONTOH LAINYA :

Ada contoh lainnya yg kelihatannya mendukung kebenaran relative.

Bila seorang guru berdiri di depan , menghadap kelasnya dan mengatakan bahwa : Pintu dari ruangan ini berada di sebelah kanan saya. Sedangkan pintu tsb berada di sebelah kiri para murid yg ada dlm kelas tsb.

Kebenaran ini nampaknya relative bagi si Pak guru , karena hal itu benar bagi si Pak guru , tapi salah bagi para murid.

TANGGAPAN :

Bahwasannya pintu tsb ada di sebelah kanan Pak guru adalah kebenaran yg absolute.

Karena , adalah salah , bagi siapa saja , kapan saja , dimana saja , kalau pintu tsb ada di sebelah kiri Pak guru.

Dan selalu benar bagi siapa saja , kapan saja , dan dimana saja bahwa pintu tsb ada di sebelah kanan Pak guru.

Demikian pula dengan para murid , bahwa pintu tsb ada di sebelah kiri para murid, adalah suatu kebenaran absolut dan benar bagi siapa saja , kapan saja dan dimana saja.

CONTOH :

Memang sudah sangat jelas bahwa di Equator itu panas , tapi dingin di Kutub Utara.

Kelihatannya contoh ini merupakan kebenaran yg relative, karena kebenarannya hanya terdapat di suatu tempat dan tidak di tempat lain.

TANGGAPAN :

Apa yg benar di suatu tempat , akan benar juga di mana mana. Contoh tadi mengatakan bahwa di Kutub Utara itu dingin , hal ini juga benar di Equator dan di mana mana bahwa di Kutub Utara itu dingin.

Demikian juga dengan ‘di Equator itu panas ‘ adalah benar di Kutub Utara dan di mana mana.

Jangan lupa bahwa , kebenaran adalah sesuatu yg sesuai dengan apa adanya ( faktanya ), dan dalam hal ini faktanya menyatakan bahwa di Equator itu panas dan di Kutub Utara itu dingin. Kebenaran ini adalah benar dimana saja , karena dimanapun juga statement tsb di atas, tidak pernah tidak sesuai dengan faktanya. ( correspondence ).

KESIMPULAN :

All truth is absolute.

Semua yang namanya kebenaran itu mutlak. Tidak ada yang namanya kebenaran yg relative.

Karena kalau sesuatu itu benar , maka hal itu benar di mana saja , kapan saja dan bagi siapa saja.

Lagi pula 5 + 5 = 10 , bukan saja benar bagi para ahli Matematika saja , tapi juga bagi semua orang.

5 + 5 = 10 , bukan saja benar hanya dalam kelas Matematika , tapi juga benar di mana mana , baik di rumah saya , di rumah anda , di planet Pluto , di tempat kerja , maupun di gereja , atau di mesjid dan di Kelenteng.

Bagaikan apple busuk , demikian pula Relativism yg kelihatannya sangat indah luarnya , tapi dalamnya busuk.

Oleh karena itu , mari kita lihat beberapa problem dalam Relativism.

PROBLEMS WITH RELATIVISM

1. Relativism is self defeating.

Argument dari relativism menghancurkan dirinya sendiri.

Para relativist percaya bahwa relativism itu benar bagi semua orang, dan bukan bagi mereka saja.

Kalau begitu relativist melanggar teorinya sendiri , karena mereka katakan bhw relativism itu hanya benar bagi orang tertentu saja dan tidak benar bagi yang lain.

Akan tetapi , oleh karena para relativist percaya bahwa relativism itu adalah benar untuk semua orang , maka , dia bukan lagi relativist , tapi absolutist.

2. Relativism menciptakan dunia yg penuh dengan kontradiksi ( sesuatu yg bertentangan ).

Kalau memang relativism itu benar , maka duina ini akan dipenuhi dengan hal hal yg kontradiksi.

Bila sesuatu itu benar bagi saya dan salah buat anda , dan menurut relativist , keduannya adalah benar dan harus diterima , maka terjadilah suatu keadaan yg bertentangan .

Contoh :

Bila saya katakan 2 + 2 = 4, dan anda katakan 2 + 2 = 5.

Hanya satu yang benar, dan bukan keduanya benar. Karena keduanya bertentangan.

Bila saya katakan ‘ ada segelas susu di dalam kulkas ‘ dan

Anda juga mengatakan ‘ tidak ada segelas susu di dalam kulkas ‘ (dalam waktu dan pengaertian yg sama ) , dan menurut relativist , keduanya itu benar ,dan harus diterima , maka

adanya segelas susu dan tidak adanya segelas susu dalam kulkas bisa terjadi dalam waktu yg bersamaan.

Namun hal itu adalah sesuatu yg tidak mungkin terjadi.

Jadi jikalau kebenaran itu relative, maka sesuatu yg impossible itu menjadi actual.

Dalam dunia keagamaan dimana seorang Theis mengatakan ‘ Allah itu ada ‘ dan seorang Atheis mengatakan ‘ Allah itu tidak ada ‘.

Menurut relativist , keduanya adalah benar dan harus diterima.

Namun demikian kedua statement tsb tidak bisa sama sama benar , karena jika yg satu benar , maka yg lain pasti salah , tapi tidak mungkin keduanya benar.

3. Relativism berarti , tak seorangpun akan pernah bersalah dalam hal apapun.

Kalau kebenaran itu relative , maka tak seorangpun bersalah , walaupun mereka sudah jelas bersalah.

Selama sesuatu itu benar menurut saya , maka saya akan selalu benar , walaupun saya bersalah.

Akibatnya adalah : Saya tidak akan pernah dapat belajar tentang segala sesuatu.

Karena , yg namanya belajar , pada hakekatnya , adalah : perpindahan dari suatu yg salah kepada sesuatu yg benar, yaitu : dari sesuatu yang absolute salah kepada sesuatu yang absolute benar.

BEBERAPA KEBERATAN TERHADAP KEBENARAN ABSOLUT DIBAHAS.

Ada beberapa keberatan yg di lontarkan oleh para relativist , kita hanya membahas yg penting-penting saja.

KEBERATAN 1 :

Ada banyak hal hal yg relative , seperti relative sizes such as shorter and taller.

Hal-hal seperti ini tidak mungkin absolute , karena mereka berubah-ubah tergantung kepada apa dan siapa mereka dibandingkan. Contohnya : sebagian orang termasuk baik, bila dibandingkan dengan Adolf Hitler , dan sebagian orang termasuk jahat, bila dibandingkan dengan Mother Teresa.

TANGGAPAN :

Perbandingan relative ini tidak dapat menyanggah kebenaran absolute.

Statement yg mengatakan bahwa ‘ John itu pendek bila dibandingkan dengan pemain basket NBA ‘ dan ‘ John itu tinggi bila dibandingkan dengan seorang jockey ‘ adalah kebenaran absolute dan benar bagi siapa saja dan kapan saja. John is in between size , tergantung kepada siapa Ia dibandingkan. Namun demikian, John yang tingginya 5 feet ,10 inches adalah pendek dibanding dng Shaquille O’Neal dan tinggi bila dibanding dng jockey Willie Shoemaker adalah suatu kebenaran yg absolut. Sama halnya dengan hal hal yg lain seperti warmer or colder and better or worse.

KEBERATAN 2 :

Kalau kebenaran itu tidak pernah berubah , maka tidak akan pernah ada kebenaran baru. Dan ini berarti bhw kita tidak akan pernah mengalami kemajuan ( progress ). Tapi sebenarnya, pada kenyataanya, kita telah banyak menemukan kebenaran baru yg terbukti dari banyaknya penemuan penemuan scientific ( scientific discovery ).

TANGGAPAN :

Istilah ‘ kebenaran baru ‘ ini sebenarnya dapat diartikan ‘ baru bagi kita ‘ seperti pada penemuan penemuan scientific tsb. Dan dalam hal ini, kita menemukan ‘kebenaran yg lama ‘ . Lagi pula hukum gravitasi sudah lama ada sebelum ditemukan oleh Newton . Yang namanya kebenaran itu, sudah lama ada , hanya kita yg baru menemukannya.

KEBERATAN 3 :

Kebenaran itu berubah-ubah bersama sama dengan pengenalan dan pengetahuan kita. Oleh karena itu, kebenaran itu tidak absolut. Apa yang benar hari ini bisa jadi salah pada hari esok. The progress of science adalah bukti bahwa kebenaran itu terus menerus beruba-ubah.

TANGGAPAN :

Keberatan ini gagal untuk melihat bahwa bukan kebenaran lah yang berubah , melainkan pengertian kita tentang kebenaran itulah yg berubah. Bilamana terjadi kemajuan-kemajuan dalam science, hal ini bukan berarti bahwa kita telah bergerak maju dari kebenaran lama kepada kebenaran yg baru, melainkan kita telah bergerak dari yg salah kepada yg benar.

Pada waktu Nicolaus Copernicus mengatakan bhw bumilah yang berputar mengeliling matahari ( heliocentric ) dan bukan sebaliknya ( geocentris ), kebenaran nya tidak berubah dari geocentric kepada heliocentric. Yang berubah adalah pengertian scientific kita tentang bumi dan matahari.

KEBERATAN 4 :

Kebenaran absolute itu terlalu sempit.

TANGGAPAN :

Keberatan ini merupakan keberatan yg sangat umum dan populer tapi tanpa dasar yg kuat.

Tentu saja yang namanya kebenaran itu selalu SEMPIT.

Karena hanya ada satu jawaban bagi 4 + 5. Dan jawabannya bukanlah 1, bukanlah 2, bukan 3, dan juga bukan 4, 5, 6, 7, 8 dan semua angka dari 10 sampai kekal.

Jawabannya hanyalah 9. Memang sempit , tapi , benar.

Non-Kristen biasanya menuduh bahwa orang Kristen itu pikirannya sempit karena orang Kristen mengkleim bahwa kekristenan itu adalah satu-satunya kebenaran sedangkan yg non-Kristen adalah tidak benar.

Namun demikian , non-Kristen juga melakukan hal yg sama, yg juga mengkleim bahwa pandangan merkalah yg benar dan semua kepercayaan yg bertentangan dengan pandangan mereka , adalah salah.

Pandangan mereka juga sama sempitnya.

Yang jelas , kalau K ( Kekristenan ) itu benar , maka semua yang non-K pasti salah , demikian juga , jika B ( Buddha ) itu benar , maka semua yg non-B pasti salah , jika I ( Islam ) itu benar , maka semua yg non-I pasti salah.

Semua pandangan tsb sama sempitnya , tapi memang begitulah sifat kebenaran.

Bila sesorang mengkleim kebenaran, maka dengan demikian ia juga telah menyatakan bhw apapun yg bertentangan dgn dia , pasti salah..

Kekristenan tidak lebih sempit dari kepercayaan2 lainnya entah itu Atheis , Agnostic , Skeptic atau Pantheis.

KEBERATAN 5 :

Kepercayaan terhadap kebenaran absolute adalah sesuatu yg Dogmatis , Congkak , Fanatik dan Arrogant.

TANGGAPAN :

Mereka yg mengatakan demikian, biasanya salah mengerti dalam 2 hal.

Yang pertama :

Yang namanya kebenaran itu , pasti , selalu absolute dan tidak dapat disangkal. Karena seperti yg sudah kita lihat , bila sesuatu itu benar, maka hal itu pasti benar bagi siapa saja , kapan saja , dan di mana saja.

Nah dalam pengertian yg seperti inilah, baru dapat dikatakan bhw mereka yg mengkleim kebenaran absolute itu dogmatis.

Yang kedua :

Ada sesuatu yg penting yg terabaikan dalam tuduhan dogmatis ini.

Ada suatu perbedaan yg besar antara sesuatu yg dogmatis dan sikap dari para absolutis.

Memang tak dapat diragukan lagi, dan sangat disayangkan bhw sikap dari pada para absolutis sering kali congkak / arrogant dalam menyampaikan kebenaran.

Namun demikian bukan berarti kebenaran itu relative.

KEBERATAN 6:

Bagaimana kita bisa tahu secara absolute bhw sesuatu itu benar ?

Banyak orang ragu terhadap kebenaran absolute, karena kita semua tidak memiliki pengetahuan yg absolute tentang kebenaran.

Bahkan banyak dari kalangan absolutis sendiri mengakui bhw ada hal hal yg dapat kita ketahui hanya sampai pada tingkat tingkat kemungkinan. Oleh karena itu, bagaimana dapat kita pastikan bhw semua kebenaran itu absolute?

TANGGAPAN :

Ada 2 hal yg salah dari keberatan ini.

Yang pertama :

Ada hal-hal yg dapat kita pastikan secara absolute.

Contoh :

-Saya tahu dengan pasti bahwa saya ada ( Exist ). Bahkan saya tahu dengan pasti bahwa keberadaan saya ini tidak dapat disangkal. Karena untuk menyangkal keberadaan saya , saya harus ada terlebih dahulu. Dengan kata lain saya harus ada untuk mengatakan bahwa ‘ saya tidak ada ‘.

-Saya juga dapat memastikan secara absolute bhw saya tidak bisa ada dan tidak ada , dalam waktu yang bersamaan.

-Dan saya tahu pasti bhw tidak ada yang namanya lingkaran kotak.

-Dan juga saya tahu pasti bhw 3 + 2 = 5 itu , absolute.

Yang kedua :

Tentu saja ada banyak hal hal lainnya yg tidak saya ketahui dengan pasti ( secara absolut).

Bahkan dalam hal inipun para relativis sering salah mengerti. Mereka menolak kebenaran absolute , hanya di karena kan kurangnya bukti-bukti yg absolut untuk menyatakan bhw sesuatu itu benar.

Mereka gagal untuk mengakui bhw kebenaran itu selalu absolute, apapun yg menjadi dasar kita untuk mempercayainya.

Contoh :

Jika benar bhw Sydney , Australia ada di lautan Pacific ,maka hal itu merupakan suatu kebenaran yg absolut , tidak perduli apakah saya memiliki bukti-buktinya maupun tidak. Hal tsb benar bagi orang yg punya bukti- bukti dan juga benar bagi seorang bayi yg belum tahu apa apa mengenai ilmu bumi. Sampai di manapun tingkat pengetahuan kita , bahwa , Sydney , Australia ada di lautan Pacific , itu adalah kebenaran absolute.

Kebenaran absolute adalah selalu benar , sampai dimanapun pengetahuan kita .

Truth does not change , just because we learn something more about it.

A.W.

 

INSTRUMEN VALIDASI KTSP

CONTOH

INSTRUMEN VALIDASI/VERIFIKASI  DOKUMEN KTSP

Nama Sekolah            :   . . . . . . . . . . . . . . .

Nama Kepala Sekolah  :   . . . . . . . . . . . . . . .

Alamat Sekolah          :   . . . . . . . . . . . . . . .

Kabupaten/Kota         :   . . . . . . . . . . . . . . .

 

DOKUMEN I

 

No Komponen KTSP/Indikator Penilaian Catatan
Ya Tdk
  Cover/halaman judul      
  1.   Logo sekolah dan atau daerah      
  2.   Judul: Kurikulum SMA  …………      
  3.   Tahun pelajaran      
  4.   Alamat sekolah      
  Lembar Pengesahan      
  1.   Rumusan kalimat pengesahan      
  2.   Tanda tangan kepala sekolah  dan stempel/cap sekolah      
  3.   Tanda tangan ketua komite sekolah dan stempel/cap Komite Sekolah      
  4.   Tempat untuk tanda tangan kepala/ pejabat dinas pendidikan provinsi      
  Daftar isi      
  Kesesuaian dengan halaman      
I PENDAHULUAN      
A Rasional      
  1. Latar belakang memuat:      
    – kondisi nyata      
    – kondisi ideal      
    – Potensi dan karakteristik satuan pendidikan      
  2. Mencantumkan dasar hukum yang relevan      
    – Undang-undang No 20 thn 2003      
    – PP No 19 thn 2005      
    – Permendiknas No 22, 23, dan 24 thn 2006      
    – Permendiknas No 6 thn 2007      
    – Peraturan Daerah yang relevan      
B Visi Satuan Pendidikan      
  1. Ringkas dan mudah dipahami      
  2. Mengacu pada tujuan pendidikan menengah yaitu untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.      
  3. Mengacu tuntutan SKL Satuan Pendidikan, sebagaimana tercantum pada Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006      
  4. Berorientasi pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik .      
  5. Berorientasi pada kepentingan daerah, nasional dan internasional.      
  6. Berorientasi pada perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.      
  7. Memberi inspirasi dan tantangan dalam meningkatkan prestasi secara berkelanjutan untuk mencapai keunggulan      
  8. Mendorong semangat dan komitmen seluruh warga satuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan      
  9. Mengarahkan langkah-langkah strategis yang konsisten dengan penjabaran misi satuan pendidikan.      
C Misi Satuan Pendidikan      
  Menjabarkan pencapaian visi  dalam bentuk pernyataan yang terukur dan dapat dicapai sesuai dengan skala prioritas, mencakup:      
  1. Seluruh indikator visi      
  2 Sebagian dari indikator visi      
D Tujuan Satuan Pendidikan      
  Menjabarkan pencapaian misi  dalam bentuk pernyataan yang terukur dan dapat dicapai sesuai dengan skala prioritas, mencakup:      
  1. Seluruh indikator misi      
  2 Sebagian dari indikator misi      
II STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN      
  Struktur Kurikulum Satuan Pendidikan, memuat:      
  1. Daftar mata pelajaran dan muatan lokal  sesuai dengan standar isi      
  2 Pengaturan alokasi waktu per mata pelajaran disesuaikan dengan standar isi, kebutuhan peserta didik dan sekolah  dengan total waktu 38 – 39 Jam per minggu.      
  3 Pengaturan alokasi waktu per mata pelajaran disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan sekolah dengan  memanfaatkan tambahan 4 Jam per minggu.      
  Program Muatan Lokal, mencantumkan:      
  1. Jenis dan strategi pelaksanaan muatan lokal yang dilaksanakan sesuai dengan kebijakan daerah      
  2. Jenis dan strategi pelaksanaan muatan lokal yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan karakteristik sekolah.      
  4. Daftar SK dan KD Muatan Lokal  yang dikembangkan oleh sekolah      
  5. Uraian tentang jenis dan strategi pelaksanaan program muatan lokal      
  Kegiatan Pengembangan Diri, mencantumkan:      
  1. Uraian tentang jenis dan strategi pelaksanaan program layanan konseling dan atau layanan akademik/belajar, sosial dan pengembangan karier peserta didik      
  2. Uraian tentang jenis dan strategi pelaksanaan program pengembangan bakat, minat dan prestasi peserta didik.      
  Pengaturan Beban Belajar, mencantumkan:      
  1. Uraian tentang rasionalisasi pemanfaatan tambahan 4 (empat) jam pelajaran per minggu      
  2. Uraian tentang pengaturan alokasi waktu pembelajaran per jam tatap muka,  jumlah jam pelajaran per minggu, jumlah minggu efektif per tahun pelajaran, jumlah jam pelajaran per tahun.      
  3. Uraian tentang pemanfaatan 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka pada mata pelajaran tertentu, untuk penugasan terstruktur (PT) dan kegiatan mandiri tidak terstruktur (KMTT).      
  4. Uraian tentang pelaksanaan program percepatan bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa (bila ada).      
  Ketuntasan Belajar, mencantumkan:      
  1. Daftar kriteria ketuntasan minimal  (KKM) untuk semua mata pelajaran pada setiap tingkatan kelas.      
  2. Uraian tentang mekanisme dan prosedur penentuan KKM      
  3. Uraian tentang upaya sekolah dalam meningkatkan KKM untuk mencapai KKM ideal (100%)      
  Kenaikan Kelas mencantumkan:      
  1. Kriteria kenaikan kelas sesuai dengan kebutuhan sekolah dg. mempertimbangkan ketentuan pada SK Dirjen Mandikdasmen No. 12/C/Kep/TU/2008.      
  2. Uraian tentang pelaksanaan penilaian hasil belajar siswa (ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas), sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Standar Penilaian Pendidikan.      
  3. Uraian tentang mekanisme dan prosedur pelaporan hasil belajar peserta didik      
  4. Uraian tentang pelaksanaan program remedial dan pengayaan      
  Kelulusan, mencantumkan:      
  1. Kriteria kelulusan berdasar pada ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 ayat 1      
  2. Uraian tentang pelaksanaan ujian nasional dan ujian sekolah      
  3. Target kelulusan yang akan dicapai oleh sekolah      
  4. Uraian tentang program-program sekolah dalam meningkatkan kualitas lulusan.      
  5. Uraian tentang program pasca ujian nasional sebagai antisipasi bagi siswa yang belum lulus ujian akhir.      
  Penjurusan, mencantumkan      
  1. Kriteria penjurusan sesuai dengan kebutuhan sekolah dg mempertimbangkan ketentuan yang diatur pada SK Dirjen Mandikdasmen No. 12/C/Kep/TU/2008      
  2. Uraian tentang program penelusuran bakat, minat dan prestasi peserta didik      
  3. Uraian tentang mekanisme dan proses pelaksanaan penjurusan.      
  Pendidikan Kecakapan Hidup dan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global, mencantumkan:      
  1. Uraian tentang penerapan pendidikan kecakapan hidup.      
  2. Uraian tentang penyelenggaraan pendidikan berbasis keunggulan lokal      
  3. Uraian tentang upaya sekolah dalam menuju pendidikan berwawasan global.      
III KALENDER PENDIDIKAN, Mencantumkan:      
  1. Pengaturan tentang permulaan tahun pelajaran.      
  2. Jumlah minggu efektif belajar satu tahun pelajaran      
  3. Jadwal waktu libur (jeda tengah semester, antar semester, libur akhir tahun pelajara, libur keagamaan, hari libur nasional dan hari libur khusus)      
LAMPIRAN      
  1. Silabus seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal      
   
  • Silabus semua mata pelajaran kelas X
     
   
  • Silabus semua mata pelajaran kelas XI program yang dilaksanakan
     
   
  • Silabus semua mata pelajaran kelas XII program yang dilaksanakan
     
   
  • Silabus muatan lokal kelas X
     
   
  • Silabus muatan lokal kelas XI program yang dilaksanakan
     
   
  • Silabus muatan lokal kelas XII program yang dilaksanakan
     
  2 Laporan Hasil analisis Konteks      
  3 Contoh  hasil penentuan KKM (satu mata pelajaran)      

 

Rekomendasi Petugas Validasi/Verifikasi untuk Dokumen I:

 

—————————————————————————————————————————————————-

 

—————————————————————————————————————————————————-

 

—————————————————————————————————————————————————-

 

—————————————————————————————————————————————————-

 

—————————————————————————————————————————————————-

Petugas Validasi/Verifikasi

—————–

DOKUMEN II dan LAMPIRAN

 

No Komponen KTSP/Indikator Penilaian Catatan
Ya Tidak
I Silabus      
 

A

Identitas Silabus

     
    Mencantumkan: nama sekolah, mata pelajaran, kelas, semester, standar Kompetensi dan alokasi waktu.      
 

B

Komponen Silabus

     
    Silabus mencakup komponen: Kompetensi dasar (KD), Materi Pembelajaran (MP), Kegiatan Pembelajaran – (KP), Indikator Pencapaian Kompetensi (KP), Penilaian (P), Alokasi Waktu (AW) dan Sumber Belajar (SB).      
   

C

Rumusan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

     
     

Mencakup seluruh SK dan KD untuk kelas X, XI dan XII

     
 

D

Rumusan Materi Pembelajaran

     
  1 Dikembangkan sesuai dengan tingkatan ranah kognitif (fakta, konsep dan prosedur), afektif 9sikap/perilaku) dan psikhomotor (keterampilan) pada setiap KD.      
  2 Urutan materi pembelajaran dikembangkan sesuai IPK, dengan memperhatikan pendekatan prosedural dan hirarkis.      
  3 Mengintegrasikan potensi, kenunggulan dan budaya daerah setempat      
  E Rumusan Kegiatan Pembelajaran      
  1 Menjabarkan aktifitas peserta didik dalam proses pembelajaran sesuai dengan IPK      
  2 Dikembangkan mengacu pada tingkatan kompetensi pada IPK (hasil pemetaan SK/KD)      
  3 Urutan kegiatan pembelajaran sesuai dengan urutan tingkatan kompetensi pada IPK      
  4 Mengimplementasikan inovasi pembelajaran (metode/model) sesuai dengan tututan KD      
    Mencantumkan pembelajaran TM, PT dan KMTT sesuai dengan tuntutan KD      
  F Rumusan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)      
  1 IPK sesuai dengan hasil pemetaan SK/KD pada Standar Isi      
  2 Kata Kerja Operasional (KKO) pada IPK tidak melebihi tingkatan KKO dalam KD      
  3 Setiap KD dikembangkan menjadi ≥ 3 KKO      
  4 KKO mencakup ranah kompetensi afektif, kognitif dan psikhomotor, sesuai tuntutan KD.      
  G Rumusan Penilaian      
  1 Mencantumkan bentuk dan jenis penilaian yang dikembangkan berdasarkan IPK.      
  2 Bentuk dan jenis penilaian mencakup ranah  kompetensi afektif, kognitif dan psikhomotor, sesuai tuntutan KD.      
  H Rumusan Alokasi Waktu      
  1 Mencantumkan alokasi  KD untuk setiap KD sesuai  dengan hasil pemetaan SK/KD pada standar isi      
  2 Mengacu pada jumlah minggu efektif belajar dan alokasi yang tercantum dalam struktur kurikulum.      
  I Rumusan Sumber Belajar      
  1 Mencantumkan berbagai jenis sumber belajar (buku, laporan hasil penelitian, jurnal, majalah ilmiah, kajian pakar bidang studi, situs-situs internet, multimedia, lingkungan, dan narasumber.      
  2 Mengacu pada hasil pemetaan SK/KD, materi pembelajaran  dan kegiatan pembelajaran      
II LAMPIRAN      
  1. Silabus seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal      
   
  • Silabus semua mata pelajaran kelas X
     
   
  • Silabus semua mata pelajaran kelas XI program yang dilaksanakan
     
   
  • Silabus semua mata pelajaran kelas XII program yang dilaksanakan
     
   
  • Silabus muatan lokal kelas X
     
   
  • Silabus muatan lokal kelas XI program yang dilaksanakan
     
   
  • Silabus muatan lokal kelas XII program yang dilaksanakan
     
  2 Laporan Hasil analisis Konteks      
  3 Contoh  hasil penentuan KKM (satu mata pelajaran)      

 

Rekomendasi Petugas Validasi/Verifikasi untuk Dokumen II dan Lampiran:

 

—————————————————————————————————————————————————-

 

—————————————————————————————————————————————————-

 

—————————————————————————————————————————————————-

 

—————————————————————————————————————————————————-

 

—————————————————————————————————————————————————-

 

—————————————————————————————————————————————————-

 

 

 

Petugas Validasi/Verifikasi

—————–

 

TELAAH DOKUMEN RPP

CONTOH INSTRUMEN PENELAAHAN  DOKUMEN RPP

Mata Pelajaran          :   Kimia

Nama Guru                 :   Esdi Pangganti, S.Pd.

Sekolah                        :   SMA Negeri 2 Muara Teweh

Kabupaten/Kota      :   Barito Utara

Provinsi                       :   Kalimantan Tengah

 

Petunjuk : Beri tanda check (v) pada kolom Penilaian untuk validasi data RPP

No Komponen / Indikator Penilaian Catatan
Ya Tidak
I Umum    
  A Disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.   v Dilaksanakan lbh 1 x
  B Komponen RPP: identitas mapel, SK, KD, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembeja-ran (penduhuluan, inti, penutup), penilaian hasil belajar dan sumber belajar. v    
II Penjelasan Komponen RPP      
A Identitas RPP      
  1 Meliputi satuan pendidikan, kelas, semester, program, mata pelajaran, jumlah pertemuan. v    
B SK dan KD      
  1 Rumusan Standar Kompetensi  (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) sesuai dengan standar Isi v    
  2 Keterkaitan antara SK dan KD v    
C Indikator      
  1 Ada kesesuaian dengan indikator pada silabus. v    
  2 Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, dan potensi daerah. v    
  3 Indikator dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan diamati yang mencakup pengetahuan, keterampilan  dan sikap. v    
  4 Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. v    
  5 Setiap KD dikembangkan menjadi beberapa indikator (minimal satu KD ada dua indikator) v    
  6 Kata Kerja Operasional (KKO) pada indikator pencapaian tidak melebihi tingkatan berpikir KKO dalam KD v    
D Tujuan Pembelajaran      
  1 Menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. v    
E Materi Ajar      
  1 Memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan v    
  2 Cakupan materi sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. v    
F Alokasi Waktu      
  1 Sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar v    
G Metode Pembelajaran      
  1 Sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik v    
  2 Sesuai dengan karakteristik dari indikator dan kompetensi yang akan dicapai pada setiap mata pelajaran v    
  3 Mengacu pada kegiatan pembelajaran yang ditetapkan dalam silabus v    
H Kegiatan  Pembelajaan      
  1 Pendahuluan

Kegiatan awal untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

 

v    
  2 Kegiatan inti      
  a Merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran v    
  b Dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. v    
  c Dilakukan secara sistematis melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi v    
  3 Penutup      
  a Merefleksikan kegiatan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran v    
  b Membuat rangkuman atau kesimpulan dan penilaian v    
  c Memberikan umpan balik dan tindak lanjut v    
I Penilaian Hasil Belajar      
  1 Prosedur dan instrumen  penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan  dengan indikator pencapaian kompetensi.      
  2 Mengacu kepada standar penilaian      
. 3 Ada lampiran soal dan jawaban sesuai dengan indikator pencapaian   v Soal tidak disertakan
J Sumber Belajar      
    Penentuan sumber belajar didasarkan pada SK, KD, materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. v    

 

 

 

Rekomendasi Petugas Validasi untuk Dokumen  RPP:

———————————————————————————————————————————————————–

———————————————————————————————————————————————————–

———————————————————————————————————————————————————–

———————————————————————————————————————————————————–

 

Penelaah,

ttd.

Esdi Pangganti, S.Pd.